Breaking News:

Tribunners

Meneguhkan Mental Sehat Melalui Ramadan

Jika disadari, Ramadan akan "merangsang" pribadi umat Islam untuk mengasah mental-ruhaniyahnya menjadi lebih baik dan sehat

Meneguhkan Mental Sehat Melalui Ramadan
ISTIMEWA
Johan, S.Ag - Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pangkalpinang

KITA sudah memasuki bulan yang sangat istimewa, yakni bulan Ramadan. Di dalamnya terdapat lailatul qodar (malam yang lebih baik dari seribu bulan). Bulan yang awalnya dipenuhi rahmah (rahmat), pertengahannya diliputi maghfiroh (ampunan), dan di akhirnya itqun minan-naar (pembebasan dari api neraka). Beribadah di dalamnya bernilai pahala hingga 70 kali lipat.

Jika disadari, Ramadan akan "merangsang" pribadi umat Islam untuk mengasah mental-ruhaniyahnya menjadi lebih baik dan sehat, antara lain:

Pertama, mentalitas jujur. Puasa merupakan ibadah yang sangat pribadi, yang sangat sulit dinilai orang lain. Orang yang berpuasa pasti memiliki mental jujur. Bisa saja ia makan minum tanpa diketahui orang lain dan berpura-pura layaknya berpuasa. Tetapi bagi orang yang berpuasa lillah (karena Allah), ia tidak akan tergoda untuk makan minum serta yang membatalkan puasa lainnya walau luput dari pantauan orang lain. Mengapa? Karena puasa menanamkan mental jujur bagi pelakunya. Ia merasa dalam pantauan Dzat Yang Maha Melihat.

Sebagai ibarat, pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang pengembala kambing milik tuannya. Khalifah Umar hendak menguji kejujuran pengembala itu dengan membujuknya agar mau menjual kambing gembalaannya, satu ekor saja.
"Tidak akan ada yang tahu-termasuk tuanmu-bahwa satu ekor kambingnya telah kau jual, karena kambing-kambing ini sangat banyak", demikian kira-kira rayuan sang Khalifah. Tanpa diduga, pengembala kambing menjawab, "Tetapi, di manakah Allah?" Jawabannya itu menandakan kejujuran dan kesadaran bahwa Allah pasti mengetahuinya. Puasa diharapkan membentuk pribadi yang jujur dan merasa selalu dalam pantauan Allah.

Kedua, mentalitas semangat beraktivitas-ibadah. Pahala beribadah di bulan Ramadan dilipatgandakan hingga 70 kali lipat. Ini merupakan karunia Allah dan rangsangan dari-Nya agar para hamba-Nya memiliki semangat beraktivitas dengan niat ibadah.

Bagi orang yang berpikiran sehat, ia pasti akan bertambah semangat mengerjakan sesuatu jika dijanjikan imbalan, terlebih imbalannya besar. Tentu, dalam hal ini, ending-nya adalah bagaimana beribadah itu menjadi wujud aktualisasi diri sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini.

Maka, berpuasa bukanlah menjadi alasan untuk malas beraktivitas. Terkadang kita salah kaprah dengan beralasan "Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah." Padahal alasan ini tidak ada dasar dalilnya sama sekali.

Ada beberapa fenomena berikut ini yang perlu diluruskan, yakni:
1). Ada sekelompok orang yang berpuasa yang menghabiskan waktu siangnya dengan tidur, sedangkan malamnya digunakan untuk begadang dan meronda sambil berpatroli hingga menelusup ke kampung-kampung. Alasannya membangunkan orang untuk sahur. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Tidak sadarkah mereka bahwa aktivitas yang demikian itu mengganggu istirahat orang lain, terutama orang yang sakit dan anak kecil?

2). Ditambah lagi dengan petasan (mercon) yang sudah pasti termasuk menghambur-hambur harta serta suaranya yang mengganggu orang lain.

3). Masih banyak orang yang bertadarus Al-Qur'an dengan pengeras suara luar ruangan hingga pukul 12 malam, bahkan lebih. Masih ragukah bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat? Tidakkah lebih ikhlas, lebih khusyuk, dan tidak mengganggu istirahat orang lain, jika bertadarus melebihi pukul 11 malam tanpa pengeras suara luar ruangan?

Halaman
12
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved