Breaking News:

BREAKING NEWS

Buntut Keributan Kemarin, Mediasi Hari Ini Batal, Nelayan dan Penambang Tak Satu pun Hadir

Upaya Pihak Kecamatan Riausilip melakukan rapat mediasi untuk menenangkan situasi konflik antara kelompok nelayan dan penambang,

istimewa
Recana mediasi keributan nelayan vs penambang Teluk Kelabat , gagal. Rapat mediasi di Gedung Serba Guna (GSG) Kecamatan Riausilip. (Ist/Lingga Pranata) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Upaya Pihak Kecamatan Riausilip melakukan rapat mediasi untuk menenangkan situasi konflik antara kelompok nelayan dan penambang, gagal dilakukan. Rencana mediasi batal karena, Minggu (2/5/2021), tak satu pun perwakilan kedua pihak datang ke lokasi mediasi, yaitu di Gedung Serbaguna Riausilip Bangka.

Upaya ini terkait bentrok antara kelompok nelayan dari Desa Pangkalniur dan Desa Berbura dengan kelompok penambang di Teluk Kelabat Dalam, kemarin.

Hingga Pukul 12.00 WIB tidak ada satupun dari perwakilan nelayan dan penambang yang hadir ke lokasi rencana mediasi.

Diketahui sebelumnya satu rumah yang berdiri di atas lahan tanah milik Pemdes Pangkalniur Kecamatan Riausilip dibakar massa, Sabtu (01/05/2021) malam.

Diduga aksi ini dipicu dari aksi unjuk rasa damai nelayan setempat, Sabtu (1/5/2021) siang Perairan Teluk Kelabat Dalam.

Para nelayan merasa resah akibat aktivitas penambangan timah ilegal di daerah tangkapan ikan mereka selama ini. Dalam aksi unjuk rasa itu sempat terjadi bentrokan fisik sehingga pihak nelayan dan penambang ada yang menjadi korban luka dan memar. 

"Semalam kami sudah mengundang perwakilan sepuluh orang nelayan dari Desa Pangkalniur dan 10 nelayan dari Desa Berbura dan juga 10 orang perwakilan penambang. Semalam mereka  siap untuk datang dan hadir dalam pertemuan mediasi ini namun kenyataannya hingga siang ini tidak satupun yang hadir," kata Lingga Pranata, Camat Riausilip kepada Bangkapos.com, Minggu (2/5/2021) siang.

Ditambahkannya, dalam rapat ini sudah hadir Dandim 0413 Bangka, Kapolres Bangka, Asisten II Setda Bangka Rahmad Gunawan, Camat Riausilip, Pj Kades dan Sekdes Pangkalniur dan aparat terkait lainnya.

"Kita juga belum tahu apa penyebabnya masyarakat kami tidak ada hadir ke sini, kita tidak tahu apa penyebabnya mereka berubah pikiran tidak hadir ke sini," kata Lingga Pranata.

Ditambahkannya tujuan rapat ini untuk memberikan penjelasan tentang duduk persoalan masalah ini, jangan sampai terjadi bentrokan fisik lagi di lapangan.

"Dalam rapat ini rencananya kita minta pihak Nayan dulu yang hadir kesini, setelah itu baru pihak penambang , kita menghindari jangan sampai kedua pihak berpapasan bertemu sehingga khawatir timbul lagi bentrokan, tapi kenyataannya tidak satu pun yang hadir," imbau Lingga Pranata.

Diungkapkannya, soal peristiwa pembakaran rumah malam tadi, katanya, karena rumah itu sering digunakan oleh pihak penambang untuk berkumpul.

"Rumah itu milik APN (67) sebelumnya meminta izin Pemdes Pangkalniur untuk mendirikan rumah di lahan desa itu dan diperbolehkan asalkan memenuhi persyaratan, salah satunya tidak boleh menanam tanaman keras seperti kelapa sawit namun ternyata dilanggar dan yang bersangkutan tetap menanam kelapa sawit sehingga pihak Pemdes Pangkalniur sudah menegurnya beberapa kali namun tidak diindahkan," kata Lingga Pranata.

Pemilik rumah APN ini tinggal bersama anaknya yang bekerja sebagai pengurus  para penambang di Perairan Teluk Kelabat Dalam.

"Rumah itu sering digunakan untuk berkumpul para penambang, mungkin hal ini memicu massa membakar rumah itu semalam," kata Lingga Pranata. (Bangkapos.com/Edwardi)

Penulis: edwardi
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved