Breaking News:

KRI Nanggala 402

26 Tahun Bertugas di Kapal Selam Termasuk KRI Nanggala 402, Mantan Danlanan Babel Kini Sakit Parah

26 Tahun Bertugas di Kapal Selam Termasuk KRI Nanggala 402, Mantan Danlanan Babel Kini Menderita Sakit

Editor: Teddy Malaka
Dok. Pelopor Passus Kapal Selam Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwa)
Foto Mantan Komandan Satuan Kapal Selam TNI AL Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwan semasa masih sehat dan bertugas yang kini terbaring sakit di kediamannya Tasikmalaya. 

"Mereka gadaikan hidup dengan maut. Mereka kenapa lagi dinas puasa terus senin-kamis, saya baru tahu alasannya mungkin saat berdinas berhadapan dengan maut."

"Maka saat kejadian itu nangis di rumah meski sedang sakit didampingi saya. Dulu katanya jumlahnya 150 orang, sekarang ada 300 orang pasukan khusus kapal selam di Indonesia," ujar dia.

Anton berharap, pemerintah supaya bisa lebih memerhatikan para anggota pasukan khusus kapal selam yang selama ini mendedikasikan jiwa raganya bagi Negara dalam menjaga kedaulatan.

"Mereka memang paling tidak ada celah di saat ada masalah kapal selam sedang bertugas di bawah laut. Berbeda dengan pasukan-pasukan khusus lainnya yang masih ada peluang untuk menyelamatkan diri," pungkasnya

Mengusap kapal selam sebelum berlayar

Dari kiri: Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf, Letjen TNI M. Sanfi dan Panglima Armada RI Laksamana Muda R. Kasenda sedang mengamat periskop di dalam kapal selam KRI Nanggala pada kedalaman 13 meter di bawah permukaan Laut Jawa depan Pulau Madura, Rabu, 16 Maret 1983
Dari kiri: Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf, Letjen TNI M. Sanfi dan Panglima Armada RI Laksamana Muda R. Kasenda sedang mengamat periskop di dalam kapal selam KRI Nanggala pada kedalaman 13 meter di bawah permukaan Laut Jawa depan Pulau Madura, Rabu, 16 Maret 1983 (KOMPAS/ANSEL DA LOPEZ (SEL) )

Sementara itu Momoh Fatimah (83) ibu kandung Iwa Kartiwa bercerita anaknya jatuh sakit setelah 26 tahun bertugas di kapal selam.

"Iwa sakit karena terlalu lama bertugas berlayar di kapal selam, sudah 26 tahun. Dia begitu mencintai pekerjaannya. Kalau Iwa tak sakit, mungkin saat tenggelam kapal selam kemarin masih Iwa komandannya," jelas Momoh, Sabtu.

Tubuh Iwa kurus kering dan menderita penyakit paru-paru akibat selalu mengisap bubuk besi saat berlayar di kapal selam.

"Makanya, badannya kurus dan kecil. Iwa sangat paham sekali pekerjaan yang diembannya sebagai ahli kapal selam di Indonesia," tambahnya.

Momoh menuturkan, saat hendak berangkat bertugas, Iwa selalu meminta izin dan restu kepada orang tua agar diberi kelancaran dan keselamatan.

Iwa pun mengaku selalu memeriksa detail kapal selam yang akan dikendalikannya bersama seluruh kru sampai tak lupa mengusap-usap badan kapal selam.

"Iwa kalau mau berangkat berlayar selalu mengusap-usap kapal selamnya. Karena kapal selam dan krunya diyakini memiliki ikatan yang tak bisa dijabarkan katanya," tambah dia.

Sebelum kejadian KRI Nanggala tenggelam, Iwa pernah mengeluh kepada ibu dan kakak kandungnya Anton Charliyan.

Iwa mengatakan bahwa armada kapal selam di Indonesia sudah berusia tua.

"Iwa juga suka berkata ke ibu, kalau kapal selam di Indonesia berusia tua," tambah dia.

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Irwan Nugraha | Editor : Khairina, Aprillia Ika, Pythag Kurniati)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved