Breaking News:

Isolasi Mandiri Lemah Pengawasan, Rantai Penyebaran Covid-19 di Babel Sulit Putus

Kebijakan isolasi mandiri (Isoman) yang selama ini diterapkan ternyata menjadi faktor penyebab kenaikan kasus Covid-19 di Provinsi Bangka Belitung. 

Bangkapos.com/Riki Pratama
Sekretaris Percepatan, Penanganan Satgas Covid-19, Provinsi Bangka Belitung, Mikron Antariksa. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Kebijakan isolasi mandiri (Isoman) yang selama ini diterapkan ternyata menjadi faktor penyebab kenaikan kasus Covid-19 di Provinsi Bangka Belitung. 

Hingga Senin (3/5/2021) kasus baru positif Covid-19 di Babel bertambah 82 orang, sehingga total keseluruhan 13.821 kasus. 

Diikuti kasus sembuh 140 orang, total 11.976 kasus dan meninggal dunia bertambah satu total 218 kasus.

Akibat psrsoalan itu, Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman, pada Senin (3/5/2021) menyampaikan kebijakan untuk meniadakan isolasi mandiri.

Ia mengatakan itu dilakukan sembari meminta pemerintah daerah kabupaten/kota membuka kembali wisma karantina atau tempat karantina lain dapat menampung warga terkonfirmasi positif Covid-19.

Dengan kebijakan itu, pemerintah Provinsi Babel bisa kembali melakukan upaya tracking, testing dan treatment (3T) seperti dilakukan awal kemunculan virus Corona di negeri Serumpun Sebalai.

Sekretaris Percepatan, Penanganan Satgas Covid-19, Provinsi Bangka Belitung, Mikron Antariksa, mengatakan, berdasarkan data dari kasus positif Covid-19 dari ribuan kasus, 12 persen kasus aktif berasal dari mereka yang melakukan isolasi mandiri.

"Jadi kita lihat dasar itu dalam data menunjukkan bahwa untuk kasus aktif dari belasan ribu sekian, 12 persen dari kasus positif kasus aktif ini kebanyakan dari isolasi mandiri. Kemudian isolasi mandiri ini posisisnya tidak bisa memutus mata rantai dengan cepat. Karena tidak bisa diawasi ketat, para pasien positif bisa ke mana saja tanpa pengawasan,"jelas Mikron Antariksa kepada Bangkapos.com, Senin (3/5/2021) di kantor gubernur.

Mikron membedakan dengan awal pengendalian kasus di Bangka Belitung yang masih menerapkan isolasi melalui wisma karantina atau tempat isolasi yang disediakan oleh pemerintah daerah.

"Sehingga kita memang harus seperti tahun kemarin dapat aktif melakukan tempat karantina disediakan pemerintah daerah disitu bisa mengendalikan penularan dan memutus mata rantainya. Kalau sekaramg tidak rantainya menyambung terus. Mereka yang melakukan karantina mandiri banyak keluyuran keluar rumah membeli makanan,"ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Riki Pratama
Editor: M Ismunadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved