Breaking News:

Cerita Timah Bangka yang Pernah Bikin Sultan Palembang Jadi Orang Terkaya di Bagian Timur

Jadi Sultan Palembang adalah sultan terkaya di Timur. Waktu itu jual sama VOC. Harganya tidak melebihi emas tapi orang perlu sekali dengan timah

Editor: Iwan Satriawan
istimewa
Balok Timah 

Liu Nge merupakan seorang buruh tambang yang memiliki banyak pengikut. Mereka merampas harta milik Belanda.

Konon hartanya dibagikan kepada kuli tambang sebagai bentuk suara ketidakadilan.

“Mereka menjadi model dari “bandit sosial” semacam Robin Hood,” catat Mary Somers.

Liu Nge kemudian dieksekusi pada 1900 di Mentok. “Dalam catatan Belanda ia digantung, tapi versi cerita mulut ke mulut ia ditembak,” Suwito menceritakan akhir kisah Liu Nge.

Waktu berlalu dan rezim berganti, Jepang masuk dan menguasai Bangka pada 1942. Pertambangan timah pun diambil alih oleh Mitsubishi Kabushiki Kaisha (MKK).

Namun penambangan timah masa Jepang tak semanis sebelumnya. Produksinya mengalami penurunan yang drastis.

"Jepang hanya tahu perang. Ia kurang dalam masalah ini. Makanya produksi turun,” kata Fakhrizal.

Jepang pun kalah dalam Perang Dunia II pada 1945.  Tentara-tentara sekutu mendarat ke Bangka melalui Muntok pada 1946.

Belanda yang dibonceng sekutu berusaha menguasai kembali penambangan timah. Banka Tin Winning Bedrijf mencancapkan kembali eksploitasi timah di Bangka.

Perang terjadi dimana-mana, tak terkecuali Muntok sampai Pangkal Pinang di masa fase kronik revolusi Indonesia.

Belanda pun menyerah menguasai Indonesia. Penambangan timah juga diserahkan ke pemerintahan Indonesia pada 1953.

Perusahaan timah Belanda dilebur kala itu, Namanya berganti menjadi PN Tambang Timah Bangka dan kemudian menjadi PT. Timah Tbk pada 1976.

Masuk pada era Soeharto, Muntok menjadi pusat peleburan timah. Komoditas ini menjadi barang strategis dengan penjagaan yang ketat.

"Siapa yang nyelundup ambil timah illegal pasti di penjara,” kata Fakhrizal.

Masa-masa itu, masyarakat tidak bisa menambang karena semua hal yang berkaitan dengan penambangan timah di Bangka dikuasai penuh oleh PT. Timah Tbk.

Sampai zaman berganti ketika Soeharto tak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pada 1998.

Penambangan timah muncul di mana-mana. Siapapun dapat menambang dengan bebas dan muncul istilah tambang innkonvensional (TI) yang bukan dikelola negara. Hal ini terjadi karena timah sudah bukan barang strategis lagi.

Banyak orang kaya mendadak tiba-tiba karena timah. Kebun-kebun yang tadinya dijadikan lahan pertanian dan perkebunan diganti menjadi pertambangan timah pada era 2000-an.

Menjadi kolong-kolong yang kita lihat pada hari ini. “Siapa yang punya uang maka ia menambang,” tutur Fakhirzal menceritakan menjamurnya penambang timah awal reformasi.

Menjamurnya penambang timah beriringan dengan aturat ketat yang dikeluarkan oleh PT. Timah Tbk terkait limbah pembuangan timah dan reklamasi.

Namun masih saja aturan itu tidak diperdulikan. Masyarakat yang secara membludak melakukan aktivitas penambangan timah itu tidak membuat limbah pembuangan.

Alhasil limbah timah dibuang ke sungai-sungai. Lahan-lahan bekas tambang yang sudah tidak berproduksi lagi pun dibiarkan begitu saja. Bahkan, eks-tambang PT. Timah yang sudah direklamasi pun dibuka kembali oleh para penambang illegal.

“Banyak yang liar juga. Seharusnya kan dapat izin usaha, daerah mana yang bisa ditambang. Tapi sekarang ini susah. Cari yang benar benar sesuai izin sesuai izin tambang. Harusnya reklamasi kolong itu tutup. Ini PT. Timah sudah reklamasi dibuka lagi karena alasan perut,” kata Fachrizal.

Saat ini, sungai-sungai di Muntok tercemar limbah bekas timah. Warnanya kecoklatan karena endapan pasir dan membuat volume air naik.

Sehingga di musim hujan, Muntok menjadi langganan banjir. Sebaliknya pada musim kemarau, masyarakat kekurangan air bersih karena aktivitas penambangan yang masif.

Aktivitas penambangan dari awal reformasi hingga saat ini membuat nyaris tidak ada lahan-lahan timah baru. Kalaupun ada tambang baru pun belum tentu memproduksi banyak timah.

Banyak para penambang mengalami masa sulit saat ini. Karena lahan tambang yang dimilikinya sudah tidak berproduksi kembali. 

“menambang timah ini cepat dapat cepat miskin, cepat kaya cepat miskin,” ucap Fakhrizal yang menjelaskan bahwa bekerja di sektor penambangan timah sudah tidak diminati seperti era jaya di awal reformasi.

Karena lahan di darat sudah sulit, bermunculan fenomena baru di Muntok yaitu penambang laut alias TI apung.

Kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari Palembang yang memiliki kemampuan menyelam untuk mencari lokasi-lokasi timah di lautan.

Namun kegiatan ini ditentang oleh para nelayan karena mengganggu mata pencahariaan mereka.

Para penambang-penambang lama sadar akan masa sulit ini. Beberapa diantaranya mengalihkan bekas tambangnya menjadi pariwisata, perkebunan, pertanian, restoran, dan tambak ikan.

Selain berupaya untuk melakukan usaha alternatif, beberapa penambang yakin bahwa cara itu adalah solusi untuk melestarikan lingkungan yang telah dirusak olehnya.

Solusi lain untuk mengatasi permasalahan penambangan timah di Muntok saat ini adalah mengambil mineral lanjutan yang dibuang pada limbah timah (tailing).

Fakhrizal yang sebelumnya bekerja di PT. Timah Tbk di bagian metalurgi yakin bahwa harga mineral ikutan jauh lebih mahal dibanding timah.

Mineral lanjutan ini diantaranya seperti Quatz, Zircon, Rutile, Ilmenit, Siderite, Xenotime, Monazite, dan Tourmaline.

Disebut mineral ikutan (associated minerals) karena mineral-mineral tersebut terbentuk bersamaan dengan proses geologi terbentuknya cassiterite (SnO2).

Di dalam proses pencucian (dressing) dilakukan pemisahan berdasarkan berat jenis. Maka, mineral ikutan tersebut ikut tertangkap dalam kelompok sesuai dengan berat jenisnya.

Mineral Monazite, misalnya, sebuah mineral coklat kemerahan yang terdiri dari fosfat yang mengandung logam tanah jarang sebagai sumber cerium dan thorium.

Mineral ini, menurut Fakhrizal mengandung radioaktif yang dapat dimanfaatkan untuk baterai mobil listrik.

“Kalau Monazite itu mengandung bahan radioaktif. Itukan bisa diproses untuk baterai mobil listrik, pesawat ruang angkasa. Itu bisa laku kan. Tapi siapa yang bikin pabriknya pengolahanya belum ada. Karena dijual bahan mentahnya kan tidak boleh juga,” katanya.

Kehadiran investor dengan teknologi terbarukan dipercaya Fakhrizal untuk menampung mineral-mineral ikutan tersebut.

Jika hal ini diberlakukan, Fachrizal yakin akan membawa dampak baik bagi lingkungan karena limbah timah tidak terbuang sia-sia.

Dia berharap, kelak masyarakat pun akan memiliki pekerjaan baru sebagai pencari mineral ikutan tersebut.

"Harusnya ini sudah terpikir," kata Fachrizal. "Menggantikan timah dengan industri lain.". (Nationalgeographic.co.id)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved