Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Hadapi Masa Mudik di Masa Pandemi, Babel Soroti Mudik Lokal Antar Pulau Bangka dan Belitung  

Pemerintah melalui Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PKM), Muhajir Effendi melarang

bangkapos.com
Bangka Pos Group menggelar webinar tentang Strategi Babel Hadapi Musim Mudik di Masa Pandemi Covid-19 secara virtual disiarkan secara live streaming di Facebook dan Youtube Bangka Pos, Selasa (4/5/2021). (Bangkapos.com). 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Pemerintah melalui Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PKM), Muhajir Effendi melarang ASN, TNI, Polri, BUMN, karyawan swasta maupun pekerja mandiri dan juga seluruh masyarakat untuk mudik lebaran Tahun 2021.

Larangan ini dilakukan untuk menekan meluasnya kasus atau memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

Sementara, sesuai Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19, SE 12 Tahun 2021, SE 13 Tahun 2021 dan Addendum SE 13 Tahun 2021, saat ini sedang dalam masa pengetatan mudik (pra) mulai Tanggal 22 April - 5 Mei 2021.

Peniadaan mudik mulai pada Tanggal 6 Mei - 17 Mei 2021 serta dilanjutkan pada masa pengetatan mudik (Pasca) 18 - 24 Mei 2021.

Menyikapi kebijakan ini, Bangka Pos Group menggelar Webinar tentang Strategi Babel Hadapi Musim Mudik di Masa Pandemi Covid-19 secara virtual disiarkan secara live streaming di Facebook dan Youtube Bangka Pos, Selasa (4/5/2021).

Hadir dalam agenda yang dimoderatori Pimpinan Redaksi Bangka Pos, Ibnu Taufik Juwariyanto ini yakni sebagai Keynote Speaker Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono.

Narasumber meliputi Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kepulaun Bangka Belitung KA Tajuddin, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno dan Rektor Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim.

"Dalam upaya mensosialisasikan kebijakan mudik 2021 ini, menggunakan kampaye di kanal kementerian secara resmi, kemudian insentif melakukan koordinasi dengan stakeholder dan pemerintah daerah," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono.

Diakuinya larangan ini dikeluarkan sebab berkaca dari pengalaman sebelumnya, usai masa mudik bahwa terjadi kenaikan kasus sehingga kebijakan ini sebagai antisipasi menekan penyebaran Covid-19.

"Untuk itu dihimbau untuk tidak mudik ke kampung halaman, hasil survei yang dilakukan masih ada masyarakat yang nekad untuk mudik meskipun sudah ada larangan, dengan persentase 44,47 karena rumah atau tempat tinggal di kampung diikuti mengunjungi sanak keluarga dan jenuh dengan rutinitas di masa pandemi, ada 10 persen," jelas Djoko.

Sementara data survei juga menunjukan, pilihan hari pergi terbanyak adalah pada tanggal 6 Mei 2021 yaitu 30,3 persen, artinya masih ada sekitar 69,7 persen bepergian pada masa pelarangan mudik sedangkan pemilihan hari balik setelah H+7 yaitu 36,7 persen.

"Diperlukan pemahaman dan persepsi yang sama dalam mengimplementasikam aturan peniadaan mudik agar terdapat kesamaan langkah aksi dan cara bertindak dalam pelaksanaannya," katanya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bangka Belitung sangat mendukung kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat terkait penanganan Covid-19 ini.

"Di Bangka Belitung sendiri kita ketahui angka terkonfirmasi positif Covid-19 kadang naik kadang turun, kita berharap angka ini akan turun ke depan. Salah satu upayanya pak gubernur sudah membuat berbagai kebijakan dan diterapkan,"Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kepulaun Bangka Belitung KA Tajuddin.

Lebih lanjut, ia menyebutkan di Bangka Belitung masih menunggu arahan lebih lanjut mengenai mudik lokal diperbolehkan atau tidak terutama mudik antar pulau Bangka dan Belitung.

"Kita masih melihat perbandingan terkait ada daerah yang masih memperbolehkan mudik lokal atau dilarang. Intinya, sama-sama kita menyadari dan memahami, kebijakan pengetatan semata-mata untuk mengurangi pandemi. Kalau kita tidak displin dengan pemahaman seperti itu, kita tidak tahu kapan selesainya pandemi. Mari kita pahami bersama bahwa larangan mudik untuk kebaikan bersama," ajak Tajuddin.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno memaparkan dalam pelaksanaan kebijakan ini perlu memperhatikan pemudik yang memilih waktu sebelum H-7.

"Tahun lalu dilarang dan tahun ini dilarang sepertinya masyarakat belum bisa menerima. Tadi sudah dipaparkan kondisi di India, semoga tidak terjadi di sini. Tetapi yang saya khawatir itu ada cluster mudik di awal, karena sudah ada yang mudik kemarin pada masa pengetatan. Mudik di Babel sudah ada tetapi sedikit (dibandingkan Jabotabek-red), saya kira kalau pemudik di Babel masih taat," kata Djoko.

Rektor Universitas Bangka Belitung Dr Ibrahim menilai yang kerap terjadi di Bangka Belitung adalah mudik lokal.

"Kalau arus mudik paling banyak adalah dipertimbangkan mudik lokal, bahayanya juga sama. Kalau migrasi terjadi di dalam, tetap bahayanya sama.

Jadi saya membayangkan agar yang di hilir tetap di hilir yang sudah di udik tetap di udik, agar tidak mudik dulu. Menurut saya yang perlu dilakukan, penguatan strategi penting untuk bertahan agar tidak mudik, mendorong kebijakan proaktif pimpinan, pengawasan kantong-kantong massa dan menguatkan koneksi kemanusian," saran Dr Ibrahim. (Bangkapos.com/Adv/Cici Nasya Nita) 

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved