Breaking News:

Selepas Terbang, Harvino Kopilot Lion Air JT 610 Sempat Rasakan Pesawat Mengalami Masalah

Harvino, Kopilot Lion Air dengan nomor registrasi PK-LQP yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat 29 Oktober 2018 silam sepertinya telah mengetahui

Kolase | Youtube @Edward F. Limbong dan Tribun Jakarta
Kopilot Harvino 

BANGKAPOS.COM -- Harvino, Kopilot Lion Air dengan nomor registrasi PK-LQP yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat 29 Oktober 2018 silam sepertinya telah mengetahui jika pesawat yang dibawa mengalami masalah.

Sebab berdasarkan Cockpit voice recorder (CVR) seperti di dalam video berdurasi 12 menit 33 detik yang diunggah oleh akun YouTube TeveTivi Life ,Harvino mengatakan pesawat sedang mengalami masalah.

"Sepertinya ada masalah dengan pesawat ini cap," tanya kopilot.

"Ya, sepertinya ada sesuatu dengan pesawat ini," jawab pilot, Bhavye Suneja.

Bahkan setelah percakapan tersebut keduanya sempat panik dan menanyakan hal tersebut kepada Air Traffic Controller (ATC).

Berdasarkan keterangan pada layar radar, ATC mengatakan pesawat Lion Air JT 610 berada diketinggian 900 kaki.

Hal itu berbanding terbalik dengan keterangan di kokpit, sebab data dari black box Flight Data Recorder (FDR) menunjukan diketinggian 790 kaki dilayar pilot dan 1010 kaki di layar kopilot.

Tak berselang lama mereka berdua juga sempat mengecek buku panduan untuk mengendalikan pesawat nahas tersebut.

Dalam percakapan tersebut sang pilot sempat meminta kopilot Harvino mengecek buku panduan dengan cepat.

"Pak Har, tolong perform Checklist Airspeed Unreliable," pinta pilot.

"Please standby," jawabnya lagi.

Sementara itu, Harvino masih sibuk mencari halaman ceklist Air Speed yang diminta pilot.

"Pak Har, mana memori itemnya, mana," tanya Pilot.

"Feel diferential presure," jawab Kopilot.

"Bukan, bukan yang itu, cari Air Speed Unreliable pak," sambungya lagi.

"Mana ya kok nggak ada," sebut Kopilot.

Sembari mencari Kopilot juga bergumam "Mana Air Speed, mana Air Speed,".

Kemudian, suasana di ruang kendali pesawat semakin panik dan genting. Kopilot juga masih terus mencari checklist Air Speed.

Pilot juga masih terus berusaha mempertahankan posisi pesawat agar tidak Nose Down.

Setelah itu, halaman yang dicari akhirnya ketemu juga dan system kendali auto pilot pesawat akhirnya dirilis. 

"Pesawat tidak mau dikendalikan sejak ditarik naik, dia pasti turun lagi," kata Pilot.

"Cap ini pesawat naik turun kaya roller coaster Cap," sebut Kopilot.

"Kasian penumpang pasti stress mereka,".

"Tolong panggilkan engginer ke Cockpit," sambung pilot.

Dalam beberapa menit berikutnya, sistem pesawat memberi tahu pilot, bahwa pesawat dalam kondisi stall dan mendorong hidung pesawat ke bawah sebagai responsnya.

Penampakkan black box berisi CVR pesawat Lion Air JT 610 di KRI Spica, Senin (14/1/2019).
Penampakkan black box berisi CVR pesawat Lion Air JT 610 di KRI Spica, Senin (14/1/2019). (KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D)

"LNI 610, kenapa Altitude turun," tanya petugas ATC.

"Kita ada masalah," jawab Bhavye Suneja.

"Ya, kami mengalami masalah serius pesawat terbang secara manual, Lion 610," sahut Harvino.

Setelah itu Kopilot meminta Return to Base.

"Pak Har, tolong ambil alih kendali pesawat," sebut Pilot.

"Control Take Over Cap," jawab Kopilot.

Setelah kemudi diambil alih, Kopilot mengalami kendala yang sama dengan yang dialami pilot sebelumnya.

Setelah lama berjuang mengendalikan pesawat, hal yang menegangkan tiba-tiba terjadi yang mana pesawat terus turun.

"Cap, pesawat turun terus tidak bisa dicover," ujar Kopilot.

"It's okay, It's okay," jawab Pilot.

"Up up, naik naik. Cap, cap jatuh tidak bisa dikendalikan," sebut Kopilot sembari berteriak.

"Oh no, no, no, no," sebut Pilot.

"Naik Naik," teriak Kopilot.

Saat itu juga alarm di kokpit semuanya berbunyi.

"Pull up, pull up, pull up. Oh no. Is the end,!!," sebut Pilot.

"Allahu Akbar," ucap Kopilot. 

Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot meminta ATC untuk men-clear-kan lalu lintas sekitarnya di bawah 3.000 kaki dan meminta ketinggian 5.000 kaki yang kemudian disetujui.

Sembilan Faktor Penyebab Kecelakaan Lion Air JT 610

Kapal KN P. 384 milik Kesatauan Pengamanan Laut dan Pulau membawa 2 kantung potongan jenasah korban kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang tiba di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (29/10/2018).
Kapal KN P. 384 milik Kesatauan Pengamanan Laut dan Pulau membawa 2 kantung potongan jenasah korban kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang tiba di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (29/10/2018). (TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi, KNKT, menyimpulkan sembilan faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang menewaskan 189 orang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, 1 penumpang anak, 2 bayi, 2 pilot, 5 kru.

Kasubkom Penerbangan sekaligus investigator dalam kecelakaan Lion Air dengan nomor penerbangan PK-LQP Nurcahyo Utomo mengatakan, pihaknya telah menemukan 9 faktor utama yang menyebabkan pesawat jatuh.

Dia bilang, 9 faktor itu saling terkait sehingga apabila salah satunya bisa ditangani, mungkin kecelakaan setahun lalu tidak akan pernah terjadi.

"Jadi 9 hal yang kita temui adalah 9 hal yang terjadi hari itu. Mungkin kalau salah satunya bisa ditangani, mungkin kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Itu saling terkait," kata Nurcahyo Utomo dalam konferensi pers laporan akhir kecelakaan pesawat udara di Jakarta, Jumat (25/10/2019) di kutip dari Kompas.com.

Adapun 9 faktor yang telah ditemukan KNKT, yang saling berkaitan satu sama lain sehingga menyebabkan kecelakaan pesawat, yakni:

1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX), meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat.

2. Mengacu asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di cockpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi.

3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan.

4. Pilot mengalami kesulitan melakukan respon yang tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan.

5. Indikator AOA DISAGREE tidak tersedia di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, berakibat informasi ini tidak muncul pada saat penerbangan dengan penunjukan sudut AOA yang berbeda antara kiri dan kanan, sehingga perbedaan ini tidak dapat dicatatkan oleh pilot dan teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor.

6. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya.

7. Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi.

8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-normal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat mengakibatkan baik pilot maupun teknisi tidak dapat mengambil tindakan yang tepat.

9. Beberapa peringatan, berulangnya aktifasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC tidak terkelola dengan efektif.

Hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat, pelaksanaan prosedur non-normal, dan komunikasi antar pilot, berdampak pada ketidak-efektifan koordinasi antar pilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul kembali pada penerbangan ini. (Bangkapos/Cepi Marlianto)

Penulis: Magang1
Editor: Teddy Malaka
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved