Tribunners
Spirit Nuzulul Quran dalam Hardiknas 2021
Nuzulul Quran adalah peristiwa di mana Nabi Muhammad didatangi malaikat Jibril a.s dengan membawa wahyu Allah Swt yang berbunyi "Iqra"
SEBUAH momen spesial terjadi beberapa hari lalu di saat umat Islam memperingati hari turunnya ayat suci Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad Saw empat belas abad lalu yang biasa dikenal dengan Nuzulul Quran.
Kebetulan momen tersebut bertepatan dengan diperingatinya hari kelahiran bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara yang lahir pada 2 Mei 1889, selanjutnya diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional bagi bangsa Indonesia sebagai wujud penghargaan terhadap perjuangan serta pengorbanan Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan pendidikan di negeri ini.
Nuzulul Quran adalah peristiwa di mana Nabi Muhammad didatangi malaikat Jibril a.s dengan membawa wahyu Allah Swt yang berbunyi "Iqra" berarti "bacalah". Quraish Shihab, seorang ahli tafsir terkemuka di Indonesia, memahami perintah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklifi) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amr takwini yaitu mewujudkan kemampuan membaca secara aktual pada diri pribadi Nabi Muhammad Saw.
Quraish Shihab menganalisis bahwa dalam suatu kaidah kebahasaan menyatakan, "Apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut".
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa karena kata iqra' digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan sebagainya. Oleh karena objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau. Objek tersebut bisa berupa bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik itu menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
Dalam konteks pendidikan, kegiatan membaca menjadi jantungnya pendidikan, setidaknya para ahli menjelaskan arti penting membaca sebagai sebuah kegiatan meresepsi, menginterpretasi, serta menganalisis yang dilakukan oleh pembaca untuk mendapatkan pesan yang disampaikan. Hal tersebut menunjukkan perlunya kemampuan akal dan mental serta jasmani maupun rohani yang sehat agar mampu memaknai semua pesan yang diterima.
Kemampuan memaknai pesan Ki Hadjar Dewantara akan pendidikan menjadi relevan untuk didiskusikan serta diamalkan, terutama pada era keterbukaan dan kemajuan teknologi saat ini. Merdeka Belajar sebagaimana program yang diusung oleh Kemdikbudristek RI (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia) yang esensinya adalah memerdekakan kehidupan manusia, sejatinya adalah buah pemikiran sang begawan pendidikan itu.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak- anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Ki Hadjar pernah melontarkan konsep "belajar 3 dinding". Kalau mengingat masa lalu ketika masih di bangku sekolah, bentuk ruang kelas rata-rata persegi empat. Ki Hadjar menyarankan ruang kelas itu hanya dibangun tiga sisi dinding saja di mana satu sisinya harus terbuka. Konsep ini sarat makna filosofis. Dengan adanya satu dinding yang terbuka, maka seolah hendak menegaskan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realitas di luar kelas.
Pendidikan mesti dimerdekakan dari sekadar kungkungan "kelas" dalam arti ruangan empat persegi, namun ia harus kontekstual, adaptif dan berkelanjutan (long life education). Pendidikan diakui adalah sebuah gerakan perlahan (slow moving), namun ia memiliki kekuatan besar (powerful force) untuk mengubah peradaban pada setiap zaman.
Iqra sebagai Sarana Perubahan Pendidikan
Fakta di mana sistem pendidikan di Indonesia selama ini telah terkotak pada sekolah elite dan nonelite tak dapat dikesampingkan. Orang tua peserta didik sibuk berebut memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah favorit meski sekolah tersebut termasuk sekolah negeri yang seharusnya tidak membedakan calon peserta didik dari tingkat kecerdasan dan ekonomi.
Sekolah sebagai lembaga yang menjadi ujung tombak dunia pendidikan selama ini terfokus hanya kepada pengembangan nilai-nilai kognitif semata, terbukti ujian nasional dengan beberapa mata pelajaran inti menjadi standar kelulusan para peserta didik, seolah-olah menafikan bahwa mereka bertahun panjang belajar di sekolah dengan berbagai macam mata pelajaran dan kompetensi, alhasil ujian ala standar nasional tersebut menjadi momok menakutkan tidak hanya bagi peserta didik namun juga orang tua, bahkan bagi pemerintah daerah yang tak ingin kehilangan muka akibat rendahnya nilai ujian nasional di wilayahnya.
Bersyukur para pengambil kebijakan di bidang pendidikan kini mulai tersadar makna penting pemerataan dan keadilan pendidikan bagi seluruh warga negara. Pemberlakuan sistem zonasi di mana peserta didik dapat bersekolah di lokasi terdekat dari tempat tinggalnya menjadi angin segar yang menggairahkan minat bersekolah terlepas dari beberapa kendala mengadang yang kelak pasti akan menemui solusi saat sistem makin baik.
Ujian nasional yang sarat kontroversi dan kepentingan manakala ditiadakan otomatis akan mengusir "setan menakutkan" tersebut, sebab ia tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Orang tua tak lagi khawatir anaknya gagal akibat standar nasional yang tinggi namun tak berbanding lurus dengan kualitas sekolah yang minim fasilitas dari negara. Sekolah kini memiliki wewenang penuh menentukan kelulusan sesuai kondisi yang dimiliki. Inilah esensi dari Iqra, membaca situasi aktual lalu berusaha memperbaiki dalam rangka melakukan perubahan.
Spirit Nuzulul Quran yang membawa perintah membaca kepada Nabi Muhammad Saw, sesungguhnya memiliki pesan agar manusia terus belajar menggunakan akal yang telah dikaruniakan Tuhan untuk berpikir, mengamati, serta memahami bahwa alam beserta isinya adalah realitas yang dapat dimanfaatkan untuk segenap amalan-amalan baik, namun jika manusia melakukan hal sebaliknya maka menunjukkan akal yang tidak dipakai untuk belajar. Dan ia hanya akan menjerumuskannya pada kerusakan yang berujung pada penyesalan.
Semoga spirit Nuzulul Quran di hari Pendidikan Nasional membawa kemajuan bagi pendidikan di negeri tercinta Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/akhmad-faisal.jpg)