Tribunners
Implementasi Merdeka Belajar Menuju Transformasi Pendidikan
Konsep merdeka belajar saat ini secara tidak langsung perlahan sedang dalam fase permulaan untuk pendidikan di Indonesia
LEWAT setahun sudah pandemi Covid-19 melanda dunia. Wabah Covid-19 mengakibatkan terhambatnya banyak sektor kehidupan, yaitu sektor ekonomi, sosial, agama, bahkan pendidikan.
Semenjak pandemi Covid-19 meluas, sistem pendidikan di Indonesia berubah. Perubahan sistem pendidikan yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan kebijakan penerapan merdeka belajar.
Pada peringatan Hardiknas 2021 lalu, Mendikbudristek Nadiem Makarim mengajak seluruh warga pendidikan untuk mengesampingkan kesulitan-kesulitan yang dialami selama pandemi.
Konsep merdeka belajar saat ini secara tidak langsung perlahan sedang dalam fase permulaan untuk pendidikan di Indonesia. Hal ini terjadi karena pandemi Covid-19 sehingga mengharuskan pendidikan di Indonesia dengan belajar dalam jaringan (daring).
Melalui penerapan konsep 4.0 ini ujian dapat dilakukan secara daring (online), kecurangan minim dijumpai, diharapkan mampu meningkatkan rasa jujur seseorang, serta diharapkan menghasilkan karakter jujur, disiplin, toleran, komitmen, serta integritas.
Hardiknas tahun 2021 ini bisa menjadi momentum membangkitkan semangat untuk menyongsong lembaran baru menuju transformasi pendidikan di Indonesia saat ini.
Merdeka belajar merupakan salah satu kebijakan dari Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Ristek, Nadiem Makarim. Merdeka belajar ini memiliki konsep aktivitas pengalaman langsung, kemampuan yang tepat guna. Merdeka belajar ini juga menjadikan karakteristik yang mandiri baik bagi guru maupun siswa-siswi.
Implementasi secara sederhana adalah pelaksanaan/penerapan, dapat juga diartikan sebagai suatu proses penerapan, ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberi dampak, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap. Konsep merdeka belajar di antaranya; belajar terjadi dalam beragam waktu dan tempat, adanya free choice, personalized learning, berbasis proyek, pengalaman lapangan serta interpretasi data. Seperti kita ketahui proses belajar terkadang membosankan jika hanya di dalam ruangan (kelas) saja. Dengan adanya konsep merdeka belajar ini diharapkan siswa-siswi tidak merasakan jenuh dalam proses pembelajaran yang diikuti.
Pertama kali istilah "Merdeka Belajar" disebut oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim. Merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai 1) bebas dari penghambaan, penjajahan, berdiri sendiri, 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan, 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Pemaknaan kata merdeka sangat kontekstual. Tergantung situasi dan kondisi. Padanan katanya adalah kebebasan". Oleh karenanya, segala sesuatu yang beraroma kebebasan itulah kemerdekaan.
Sementara itu, "belajar" masih menurut KBBI adalah usaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Selanjutnya definisi belajar dipertegas oleh Notoatmodjo sebagai usaha untuk menguasai segala sesuatu untuk kebutuhan hidup.
Merdeka belajar merupakan imajinasi besarnya ruang kebebasan yang ditawarkan dalam mengembangkan konsep dunia pendidikan di negara ini. Pastinya, merdeka belajar merupakan upaya logis, bahwa pemerintah telah menyadari adanya kelemahan sistem pendidikan sebelumnya. Salah satunya adalah terlampau rumitnya sistem pendidikan sehingga mengurangi akselerasi pengembangan pendidikan itu sendiri. Dunia pendidikan seolah-olah terpenjara oleh sistem yang dibangunnya sendiri sehingga layak untuk dimerdekakan kembali.
Konsep merdeka belajar ini siswa-siswi agar dapat menyesuaikan diri dalam memahami materi, memecahkan jawaban sesuai dengan kemampuannya, ibarat bermain game serta mampu memecahkan tantangan akan cepat naik level, jadi bukan lagi cara pukul rata kemampuan siswa. Merdeka belajar ini juga dapat mengajak siswa-siswi agar menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari dalam berbagai situasi.
Merdeka belajar diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan yang melampaui (tanpa batas) mengenai informasi. Peran guru pada konsep ini sebagai mentoring serta diharapkan memiliki kemampuan memecahkan masalah, sedangkan pada penilaian bukan lagi menitikberatkan pada nilai, tetapi proses berjuang.
Terkait narasi besar merdeka belajar, terdapat beberapa langkah teknis skala makro, antara lain penggantian ujian nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Pengalihan kewenangan (USBN) ke sekolah, RPP satu lembar, dan kuota jalur prestasi pada PPDB (penerimaan peserta didik baru) dari 15 persen menjadi 30 persen.
Merdeka belajar itu bahwa pendidikan harus menciptakan suasana yang membahagiakan buat guru, siswa, orang tua siswa, bahkan untuk semua (Ade Erlangga). Konotasinya adalah bahwa selama ini dunia pendidikan belum mampu menyentuh kebutuhan hakiki manusia, yaitu kebahagiaan itu sendiri, baik pada proses maupun hasilnya. Artinya ada kesan bahwa pendidikan selama ini mengalami disorientasi.
Saat ini sekolah secara umum masih dikelola secara tradisional, belum memiliki kemampuan respons yang cepat dan akurat terhadap berbagai permasalahan kekinian yang mengadang sekolah. Orientasi pembelajaran lebih bertumpu pada bagaimana menciptakan generasi robot. Generasi yang hidupnya disiapkan untuk dieksploitasi. Kita sering lupa bahwa pendidikan adalah wahana memanusiakan manusia. Artinya yang dididik untuk menyadari hakikat kemanusiaannya secara utuh.
IT telah masuk ke sekolah namun dalam kondisi yang sangat variatif, dan belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat proses manajemen dan untuk memfasilitasi layanan pendidikan yang diharapkan. Dengan demikian, dinas pendidikan diharapkan memperkuat monitoring terkait terselenggaranya kurikulum melalui proses merdeka belajar (PMB) yang dilakukan dengan dukungan aplikasi digital secara realtime menggunakan multimedia yang terkoneksi dengan baik.
Transformasi Pendidikan
Beberapa upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia menuju transformasi pendidikan, pertama, perbaikan pada infrastruktur dan teknologi. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan. Ketiga, perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. Keempat, perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen. Semua upaya tersebut dirangkum dalam program Merdeka Belajar (Nadiem Makarim).
Adapun arah sasaran proses pendidikan di Indonesia, dikutip dari Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia antara lain, pertama, mengembangkan manusia-manusia yang mampu hidup bahagia. Kedua, memiliki kreativitas dan daya imajinatif yang mampu melejitkan daya kemanusiannya yang paling dahsyat. Ketiga, memiliki berbagai kecerdasan yang diperlukannya untuk hidup sebaik mungkin. Keempat, memiliki karakter dan moralitas yang luhur. Transformasi tersebut diharapkan agar segala sesuatu yang selama ini membuat bangsa ini berjalan di tempat, dapat berubah menjadi lompatan-lompatan kemajuan.
Merdeka belajar menuntut agar sekolah dapat mengefektifkan pengelolaan sumber daya yang dimiliki dengan dukungan penuh sistem terintegrasi berbasis digital yang dioperasikan oleh tenaga profesional. Selain itu, merdeka belajar sesungguhnya adalah simbolisasi semangat. Semangat belajar yang diliputi rasa bahagia demi mencapai bahagia. Narasi besar kebahagiaan ini kemudian diupayakan sebagai spirit dalam merekondisikan fungsi, juga manfaat dari semua unsur (siswa, guru, sarana) pada satuan pendidikan sebagai pilar pendidikan yang sebenarnya.
Pemikiran-pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara hendaknya harus dijiwai dan dihidupkan kembali agar lekas tercipta pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, serta terwujudnya kemerdekaan belajar yang sejati. Lembaran baru pendidikan Indonesia berarti transformasi. Transformasi yang tetap bersandar pada sejarah bangsa dan juga keberanian menciptakan sejarah baru yang gemilang.
Diharapkan, anak-anak Indonesia menjadi pelajar yang memegang teguh Pancasila, pelajar yang merdeka sepanjang hayatnya, dan pelajar yang mampu menyongsong masa depan dengan percaya diri. Oleh karena itulah perlu adanya transformasi pendidikan melalui berbagai terobosan merdeka belajar. Sebagai tenaga pendidik dan tenaga kependidikan senantiasa dapat meningkatkan kinerja dan kreativitasnya secara optimal melalui fasilitas digital yang memadai.
Konsep merdeka belajar ini juga mengharapkan calon siswa dan orang tua mendapatkan informasi dan kepastian untuk keputusan cepat dalam menentukan sekolah pilihannya, dan mengikuti proses profesional seleksi yang objektif, transparan, dan cepat, serta konsep ini dapat memberikan layanan belajar yang efektif dengan orang tua yang mendapat kepuasan akan layanan terhadap anaknya yang di mana senantiasa dapat dikomunikasikan setiap saat, dan memiliki rasa kepemilikan terhadap sekolah.
Dengan demikian, diharapkan implementasi merdeka belajar melalui berbagai terobosan, terutama di masa pandemi ini dapat menunjang transformasi pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/nurlela-s.jpg)