Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Umar dan Romlah Kesal Dengar Kebijakan Gubernur, Begini Kisahnya

Umar (66), Warga Tuatunu Pangkalpinang sempat terdiam. Tak lama kemudian raut wajahnya mendadak terlihat kesal.

Bangkapos
ILUSTRASI: Nganggung peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Meleset, Sabtu (9/11/2019) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Umar (66), Warga Tuatunu Pangkalpinang sempat terdiam. Tak lama kemudian raut wajahnya mendadak terlihat kesal.

Pasalnya, ia mendengar adanya Kebijakan Gubernur Bangka Belitung (Babel) terkait Larangan Nganggung usai Salat Ied, nanti.

Padahal menurutnya, ganggung adalah tradisi yang tidak dapat diganggu gugat. "Nganggung itu tradisi sejak dulu yang harus dilakukan, tidak bisa dilarang begitu," ujar Umar, Jumat (7/5/2021).

Semasa hidup, Umar tidak pernah ketinggalan mengikuti momen nganggung, terutama saat Idul Fitri.

Tapi kini, kebijakan terkait larangan nganggung itu membuatnya tidak habis pikir, kenapa bisa nganggung harus dilarang sedemikian rupa.

Senada dengan sang ayah, Romlah (37) juga mengaku kesal saat mengetahui nganggung dilarang oleh Gubernur Erzaldi.

"Justru momen nganggung itu yang kami tunggu-tunggu, kesel dong ya dengernya kalau nganggung gak boleh dilakukan," kata Romlah.

Meski tradisi nganggung lumrahnya dilakukan oleh para laki-laki, tapi Romlah mengatakan ia turut sedih dan kesal jika nganggung tidak boleh dilaksanakan tahun ini.

Karena ia terbiasa memasak lauk serta menata makanan dalam dulang untuk dibawa suaminya nganggung ke masjid terdekat.

Selama ini ia mengaku suaminya akan nganggung dua kali saat lebaran Idul Fitri.

Halaman
12
Penulis: Magang3
Editor: Fery Laskari
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved