Breaking News:

Horizzon

Sulit Kaya Sekaligus Sulit Masuk Surga

Banyak yang memahami bahwa pancaindra yang dimiliki seorang wartawan adalah pancaindra milik publik titipan dari publik

Sulit Kaya Sekaligus Sulit Masuk Surga
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

RAMADAN segera berakhir. Bulan penuh berkah ini akan segera meninggalkan kita semua. Kesempatan yang diberikan oleh Tuhan bagi umat Islam untuk menyeimbangkan timbangan antara kebaikan dan keburukan telah paripirna.

Kita hanya bisa berharap, semoga diary yang mencatat amal perbuatan kita kembali putih bersih dengan puasa sebulan lamanya. Kalaupun kita tidak yakin dengan itu, maka satu-satunya harapan kita adalah berharap usia kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun depan.

Ini tak lain karena segala sesuatu di dunia ini selalu diliputi dengan ketidakpastian. Jodoh, harta, pangkat, jabatan, dan segala tetek bengek yang ada di kepala kita, meski secara kelaziman hampir pasti bisa terjadi, namun ujung-ujungnya selalu diliputi dengan ketidakpastian.

Puasa adalah momentum bagi kita untuk berkontemplasi. Menghitung sejauh mana kita tamak sebagai manusia. Melihat kembali sejauh mana kita telah serakah, mengambil hak orang lain dan pura-pura tidak tahu.

Puasa adalah momentum kita untuk kembali menyadari bahwa manusia adalah makhluk paling lemah tak berdaya yang kadang tampak bias lantaran yang keluar adalah kesombongan dan keangkuhan kita.

Puasa juga mengajarkan bagaimana kita harus memahami orang lain tanpa harus meminta orang paham dengan apa yang kita lakukan. Dan sekali lagi, semoga masing-masing kita bisa memanfaatkan momentum puasa tahun ini sebaik-baiknya sehingga kita kembali menjadi manusia yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan.

Dan budaya kita melengkapi 'ritual' puasa ini dengan budaya halalbihalal atau saling maaf memaafkan. Usai kita menempat diri dengan kesabaran, menahan hawa nafsu, maka di penghujung puasa kita harus declare tentang pengakuan dosa dan permintaan maaf.

Meski terkadang tampak seremoni, namun budaya halalbihalal ini sesunguhnya memiliki arti yang cukup mendalam. Sikap angkuh yang biasa melekat pada sisi manusia, dilunturkan dan semuanya rela untuk mengaku bersalah dan meminta maaf.

Meski pada momen ini juga ada catatan kecil yang cukup mengusik. Tidak jarang, banyak di antara kita yang sengaja menyimpan rasa bersalah dan menunggu momen Lebaran untuk membuat pengakuan sekaligus permintaan maaf.

Lantas, jika kontemplasi sudah, ujian melawan hawa nafsu selesai, meminta maaf juga sudah dilakukan, lalu apa yang harus dilakukan? Maka sekarang adalah momentum untuk meningkatkan kualitas kita masing-masing sebagai manusia.

Halaman
123
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: suhendri
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved