Breaking News:

Horizzon

Sulit Kaya Sekaligus Sulit Masuk Surga

Banyak yang memahami bahwa pancaindra yang dimiliki seorang wartawan adalah pancaindra milik publik titipan dari publik

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto | Editor: suhendri
Sulit Kaya Sekaligus Sulit Masuk Surga
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

Dari kontemplasi dan belajar menjadi manusia kemudian mendeklarasikan diri dan memulai kembali dari nol adalah langkah yang harus dilalui. Ingat, bulan memang berputar, namun waktu tidak akan pernah kembali.

Jika usia masih menemani kita, mungkin kita akan kembali bertemu dengan Ramadan tahun depan. Namun waktu kita terus berjalan. Jika kita sudah menyadari bagaimana kita pernah egois, pernah serakah, tamak, culas, licik dan sebagainya, maka sisakan rasa malu kita agar kita tak mengulanginya.

Lalu bagaimana dengan sebagian kita yang mampu memperoleh pemahaman atas diri kita saat usai Lebaran ini? Jika memang demikian, maka sebaiknya kita berdoa untuk bisa kembali bertemu dengan Ramadan tahun depan. Saat kita tak mendapatkan pemahaman soal itu dan kita masih merasa yang paling benar, mungkin kita masih terlalu egois dan merasa menjadi manusia paling hebat. Awas, ini virus yang jauh lebih berbahaya dibanding Covid-19.

Ini tentunya juga berlaku untuk kita yang kebetulan lahir dan memilih profesi sebagai wartawan. Sebuah profesi uang unik, mengasyikkan sekaligus sangat dekat dengan goda akan waham kebesaran.

Wartawan adalah sebuah profesi yang strategis dan memiliki strata tertentu dalam struktur kehidupan sosial. Posisi wartawan yang sangat strategis inilah yang justru membuat wartawan adalah satu di antara sejumlah profesi yang sulit masuk surga.

Banyak yang memahami bahwa pancaindra yang dimiliki seorang wartawan adalah pancaindra milik publik titipan dari publik. Mata, telinga, dan indra perasa wartawan adalah titipan dari publik sehingga apa yang dikatakan wartawan melalui tulisannya adalah kebenaran.

Bukan hanya mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, publik juga menitipkan indra perasa sehingga wartawan tahu betul mana yang harus dikatakan dan mana yang harus disimpan demi kepentingan publik. Jadi ketika harus menulis sesuatu atau menyembunyikan sesuatu, semua harus didedikasikan untuk kepentingan publik, bukan karena amplop tipis tutup mulut dari penguasa atau mereka yang berkepentingan.

Dalam poin ini, kita sebagai wartawan juga harus berkontemplasi di mana posisi kita? Kita harus sadar bahwa posisi wartawan bukan semata-mata sebuah pekerjaan yang kita memperoleh honor dari tulisan kita. Wartawan adalah profesi yang di dalamnya ada koridor-koridor profesionalitas sekaligus batasan etik yang harus dijunjung dan menjadi roh dari segala tindak tanduk kita.

Mari kita berhitung kembali soal ini. Saat kita masih bersikap pragmatis dan tidak memiliki rasa tanggung jawab moral dan etis atas tulisan kita, maka sesungguhnya, kita masih sulit untuk masuk surga. Ingat, saat kita memaknai wartawan sebagai sebuah profesi, maka menulis benar saja belum cukup. Ada rasa dan nurani serta tanggung jawab moral atas setiap abjad yang kita tulis dan dikonsumsi publik.

Selain itu, wartawan juga profesi yang sulit kaya. Situasi perekonomian belakangan bahkan justru memosisikan wartawan sebagai profesi yang cukup saja menjadi sesuatu yang sulit. Kita tahu, bagaimana industri media terkena double disruption atas digitalisasi dan pandemi. Situasi ini menjadikan profesi jurnalis lengkap, sulit masuk surga sekaligus sulit kaya (baca: cukup).

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved