Breaking News:

Israel Kerahkan 3.000 Tentara ke Gaza, Perang Berskala Penuh Bakal Pecah, Hamas Siap Gempur Roket

Lebih dari 1.000 roket diluncurkan oleh kelompok Palestina selama lebih 38 jam, kata Israel, sebagian besar diarahkan ke Tel Aviv. Sejumlah mobil...

Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
afp
Israel menghancurkan bangunan berlantai 14 di Gaza 

Rangkaian peristiwa ini pecah seiring meningkatnya kemarahan warga Palestina menghadapi ancaman penggusuran dari rumah mereka di Yerusalem Timur.

Kawasan itu diduduki oleh pemukim Yahudi.

Selama sebulan terakhir, pengunjuk rasa Palestina berhadapan dengan polisi Israel di bagian kota Yerusalem yang mayoritas penduduknya keturunan Arab.

Bagaimana kondisi terkini?

Rekaman video memperlihatkan roket melesat di langit Tel Aviv malam kemarin. Beberapa saat kemudian, roket itu meledak karena dihantam rudal pencegat milik Israel.

Salah satu korban roket itu, klaim pejabat Israel, adalah seorang perempuan berusia 50 tahun di kawasan Rishon LeZion, dekat Tel Aviv.

Di kawasan pinggiran Tel Aviv, Holon, sebuah roket menghantam bus kosong, menurut juru bicara kepolisian Israel, Mickey Rosenfeld, kepada kantor berita AFP.

Di Tel Aviv, sekelompok pejalan kaki berlindung dan warga lokal lainnya keluar dari restoran untuk tiarap di trotoar saat sirene dibunyikan.

Bandara di Tel Aviv, Ben Gurion, sempat berhenti beroperasi akibat serangan roket Hamas. Dampak lainnya, jaringan pipa energi antara kota Eilat dan Ashkelon rusak.

Roket tersebut diluncurkan setelah penghancuran Menara Hanadi di Gaza, yang merupakan kantor yang digunakan oleh pimpinan politik Hamas.

Beberapa jam setelah runtuh, masih belum ada laporan korban jiwa.

Rentetan roket ditembakkan Hamas ke kota Ashkelon di selatan Israel, Selasa (12/05) pagi.

Di sisi lain, sebuah gedung bertingkat di Gaza dihancurkan militer Israel. Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz, menyebut serangan Israel itu "baru permulaan".

"Organisasi teror sudah terpukul keras dan akan terus terpukul karena keputusan mereka untuk menyerang Israel," kata Gantz.

"Kami mengembalikan kedamaian dan ketenangan untuk jangka panjang," ucapnya.

Pimimpin Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan siap jika Israel terus-menerus menyerang.

"Apabila Israel ingin meningkatkan eskalasi, kami siap dan jika mereka ingin menghentikannya, kami juga siap," kata Haniyeh dalam pidato yang disiarkan televisi.

"Akan ada keseimbangan kekuatan baru."

Melansir Reuters, juru bicara militan Hamas di Gaza, Abu Ubaida, juga mendorong warga keturunan Arab untuk melawan Israel.

Dewan Keamanan PBB berencana menggelar pertemuan tertutup, Rabu ini, untuk membahas konflik Israel-Palestina.

Pejabat kesehatan Palestina mengatakan anak-anak di Gaza tewas dalam serangan Israel.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan setidaknya 26 orang, di antaranya 10 anak-anak, tewas akibat serangan udara Israel.

Lebih dari 150 warga sipil di Gaza juga disebut terluka akibat serangan Isreal.

Beberapa korban di Gaza itu adalah perempuan berusia 59 tahun dan putranya yang penyandang diabilitas, serta satu keluarga yang terdiri dari tiga anak-anak dan empat orang dewasa.

Apa yang menyebabkan kekerasan?

Pertempuran antara Israel dan Hamas dipicu bentrokan selama berhari-hari antara warga Palestina dan polisi Israel di kompleks puncak bukit suci di Yerusalem Timur.

Derajat yang sama diakui oleh komunitas Yahudi. Mereka menyebut situs itu sebagai Temple Mount.

Hamas menuntut Israel menarik pasukan kepolisian dari lokasi tersebut dan distrik yang didominasi keturunan Arab, Sheikh Jarrah.

Sheikh Jarrah adalah lokasi di mana beberapa keluarga Palestina menghadapi ancaman penggusuran oleh pemukim Yahudi.

Analisis Jeremy Bowen, editor isu Timur Tengah

Latar belakang pemicu eskalasi kekerasan saat ini masih tetap sama dengan yang sebelum-sebelumnya.

Konflik ini adalah luka terbuka dari perseteruan tak terselesaikan antara komunitas Yahudi dan Arab.

Pertikaian itu merusak sekaligus mengakhiri hubungan Palestina dan Israel selama beberapa generasi.

Episode terbaru konflik ini terjadi menyusul ketegangan di Yerusalem, yang selama ini merupakan bagian utama perselisihan.

Tempat-tempat suci di Yerusalem bukan hanya simbol nasional dan juga agama. Klaim atas lokasi ini kerap memicu kekerasan.

Salah satu pemicu konflik saat ini adalah kebijakan Israel yang kejam terhadap warga Palestina.

Pada masa Ramadan kali ini, pengadilan Israel mengeluarkan putusan kontroversial untuk mengusir warga Palestina dari rumah mereka di Sheikh Jarrah.

Namun peristiwa lainnya turut menjadi pemicu. Krisis ini ibarat bom waktu yang siap meledak, yang, sekali lagi, dibiarkan membusuk.

Para pemimpin Israel maupun Palestina berfokus menjaga posisi mereka sendiri. Tantangan terbesar konflik ini, yaitu kesepakatan damai, tidak ditangani secara serius selama bertahun-tahun.

Militer Israel sebelumnya mengatakan bahwa 90% roket yang diluncurkan Hamas dapat dicegat sistem pertahanan antirudal Kubah Besi.

Adapun salah satu "target teror" yang dibidik Israel di Gaza adalah dua terowongan yang digali di bawah perbatasan dengan Israel.

Israel mengeklaim, serangan udara mereka setidaknya menewaskan kepala unit roket khusus kelompok Jihad Islam, Samah Abed al-Mamlouk.

Israel menyebut komandan unit rudal antitank Hamas juga tewas dalam serangan udara ini.

Pasukan Israel kemudian membalasnya dengan melemparkan granat kejut.

Status Yerusalem, dengan makna religius dan nasional yang dalam bagi kedua belah pihak, adalah inti konflik menahun Israel-Palestina.

Israel mencaplok Yerusalem Timur pada tahun 1980. Mereka menganggap seluruh kawasan kota itu sebagai ibukota, walau klaim ini tidak diakui oleh sebagian besar negara lain.

Di sisi lain, Palestina menyatakan bagian timur Yerusalem itu merupakan ibu kota negara yang mereka harapkan.

(*/ SerambiNews.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved