Breaking News:

Berita Pangkalpinang

MUI Babel Ingatkan Silahturahmi Lebaran Tak Berjemaah dan Tetap Terapkan Prokes

Ketua Umum MUI Bangka Belitung, Dr Zayadi menyarankan agar masyarakat tidak melakukan kunjungan bertamu secara berjemaah yang memicu kerumunan.

(bangkapos/agus nuryadhyn)
Ketua MUI Babel Dr Zayadi 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangka Belitung, Dr Zayadi menyarankan agar masyarakat tidak melakukan kunjungan bertamu secara berjemaah yang memicu kerumunan.

"Pada ramadhan dan lebaran kali ini kita masih dalam ujian Allah dengan pandemi covid-19. Kita boleh mengadakan silaturahmi ke keluarga, kerabat, tetangga dan teman dengan melibat keluarga inti. Tetapi tetap patuh pada protokol kesehatan, yang paling penting pakai masker. Hindari silaturrahmi secara berjamaah yang melibatkan banyak orang," ujar Zayadi, Jumat (14/5/2021).

Ia mengatakan, menerapkan protokol kesehatan menjadi hal penting untuk dilakukan agar menjaga diri dari penularan covid-19.

"Jangan kita mengabaikan prokes dengan alasan kita hanya takut kepada Allah. Takut kepada Allah dan takut dengan corona adalah dua hal yang berbeda dan sikap kita pun harus berbeda. Takut kepada Allah dengan mendekatkan diri kepada Allah taqorrub kepada-Nya," katanya.

"Takut dengan corona dengan cara hindari diri kita, periksa diri kita ke dokter, kuat antibodi kita. Ini lah ikhtiar kita InsyaAllah, ikhtiar kita ini dihargai sebagai syariat oleh Allah dan dihitung sebagai menjalankan perintah-Nya," lanjut Zayadi.

Menurutnya, memaknai Hari Raya Idul Fitri dengan hakekat adanya Idul Fitri karena adanya ramadhan.

Idul Fitri yang makna dasarnya adalah kembali ke fitrah yaitu kesucian, asal kejadian atau agama yang benar.

"Ucapan yang lazim digunakan untuk menyatakan selamat Idul fitri dengan ucapan Minal Aidin Wal Faizin. Secara etemologi minal aidin bermakna semoga kita (termasuk orang yang kembali), maksudnya kembali ke fitrah," kata Zayadi.

Di sinilah kehadiran Idul Fitri tidak terlepas dri adanya ramadhan, karena dengan memelihara dan mengasuh jiwa dengan cara berpuasa ramadhan diharapkan setiap muslim dapat menemukan jati dirinya yaitu kembali suci sebagaimana ia dilahirkan dan kembali istiqomah menjalankan perintah agama dengan benar.

"Sedang Alfaizin dimaknai dengan keberuntungan yang mengandung ampunan dan keridhoaan Allah. Sehingga dapat kita maknai secara utuh Minal Aidin Walfaizin dengan makna semoga kita mendapat keberuntungan berupa ampunan dan ridho Allah. Dengan ampunan ridho Allah inilah kita semua mendapat nikmat surga Allah."

"Inilah orang dapat kemenangan karena mereka telah betpuasa ramadhan dengan segaal ibadahnya dan bangunan ibadah yang istiqomah pada bln ini berkelanjutan pada pasca ramadhan," kata Zayadi.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: El Tjandring
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved