Minggu, 26 April 2026

Horizzon

Ketika Fakta Tak Mewakili Realitas

Sekali kehilangan momen, maka seorang fotografer akan kehilangan satu hari pekerjaannya.

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

TIGA polisi turun dari sebuah mobil dinas kepolisian di simpang empat Pasar Pagi sebuah sore di akhir bulan puasa lalu.

Satu dari tiga abdi negara tersebut tampak berpangkat perwira, sedangkan dua lainnya bintara. Dilihat dari emblem dan atribut yang dikenakan, ketiganya jelas bukan anggota polantas. Meski bukan polantas, namun ketiganya rupanya sengaja turun dari mobil untuk mengatur kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut.

Saat itu jam menunjukkan pukul 16.30, di mana pada jam-jam tersebut kawasan ini memang selalu padat meski belum bisa dibilang crowded. Banyak warga yang ingin membeli kebutuhan berbuka puasa di kawasan ini sehingga kehadiran ketiga polisi ini lebih dari cukup untuk membuat pengendara tidak saling serobot.

Seorang polisi yang tampak dari tanda pangkatnya adalah seorang perwira tampak berdiri di tengah jalan. Dibantu satu bintara, keduanya dengan sigap mengatur kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut. Sementara itu, satu anggota lain tampak sibuk mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel pintar dari berbagai angle (sudut).

Namun entah kenapa, belum genap lima menit mengatur lalu lintas, adegan simpatik dari petugas kepolisian itu harus berakhir. Seperti dikomando, begitu bintara yang sejak awal mengambil foto berjalan menuju ke mobil, perwira dan bintara lainnya yang tadi tampak mengatur lalu lintas juga tampak ikut berjalan menuju ke mobil.

Ketiganya pergi meninggalkan lokasi dan mobil mereka tampak menuju ke arah Polres Pangkalpinang.

Sekilas, apa yang dilakukan ketiga polisi ini tampaknya bukan berniat untuk turun ke lapangan untuk membantu mengatur lalu lintas. Saat kita membiarkan pikiran negatif, maka pasti kita akan menuduh bahwa ketiga polisi ini hanya ingin sekadar ambil foto untuk share ke medsos demi membangun citra positif kepolisian.

Betul memang, di era digitalisasi saat ini, di mana media sosial menjadi alat paling efektif untuk branding, kita sering melihat akun-akun official institusi pemerintah, tak terkecuali kepolisian, masih mem-posting hal-hal positif ke publik. Dan memang apa yang dilakukan ini efektif dan sukses meningkatkan citra positif.

Namun, tak elok rasanya jika pikiran negatif tersebut terus dipelihara dan menguasai pikiran kita. Kita harus tetap berpikir positif. Kita harus berpikir bahwa ketiganya bergegas kembali ke Mapolres Pangkalpinang, meski belum genap lima menit mengatur lalu lintas lantaran ada tugas lain yang mendesak untuk segera dituntaskan.

Kisah dari tiga polisi yang mengatur lalu lintas di Pasar Pagi tak lebih dari lima menit ini muncul kembali setelah sejumlah fotografer saling bercerita tentang pengalaman meliput penyekatan terkait kebijakan larangan mudik di sejumlah ruas penting di Jawa Tengah.

Beberapa dari mereka mengaku beruntung lantaran berkesempatan untuk mengabadikan operasi penyekatan yang tentu menarik untuk dijadikan konten pemberitaan. Bagi sebagian dari kita yang tahu bagaimana tugas seorang fotografer, maka momen sekecil apa pun tak boleh ketinggalan.

Sekali kehilangan momen, maka seorang fotografer akan kehilangan satu hari pekerjaannya. Apalagi, memotret razia atau operasi penyekatan yang ada di batas-batas wilayah ternyata tidak berlangsung kontinu. Beberapa operasi penyekatan hanya dilakukan dalam hitungan menit.

Seorang kawan yang memotret razia penyekatan di kawasan Prambanan, ternyata hanya berlangsung sekitar 10 hingga 20 menit dan itu pun tidak berlangsung setiap hari. Di titik lain, seorang fotografer memberikan testimoni bahwa penyekatan ternyata hanya berlangsung tak lebih dari 10 menit.

Sementara itu, seorang fotografer yang memilih memotret di perbatasan antara Jawa Tengah dan DIY titik Salam-Tempel yang mengaku sedikit beruntung. Ia yang melakukan tugas peliputan ini pada H-2 mengaku bisa leluasa mengambil sejumlah angle lantaran operasi dilakukan dalam durasi yang cukup panjang, yaitu sekitar satu jam.

Kawan-kawan pewarta foto yang sempat berbagi kisah soal pengalaman liputan ini juga mengaku bahwa mereka harus berlomba dengan fotografer lain yang mengenakan seragam dinas, baik TNI/Polri atau Dinas Perhubungan dan instansi lain yang juga ikut mengabadikan razia tersebut.

Sama dengan apa yang terjadi di simpang empat Pasar Pagi, durasi dari sebuah operasi penyekatan bukan diukur dari bagaimana keberhasilan mengamankan kebijakan larangan mudik. Durasi dari operasi penyekatan ini diukur dari proses memperoleh foto sekaligus video dari operasi yang dilakukan.

Saat video dan foto sudah cukup untuk dijadikan dokumentasi sekaligus untuk lapor ke atasan, maka operasi penyekatan sudah cukup. Inilah beda dahulu dan sekarang, jika dahulu dokumentasi adalah merekam proses, maka dokumentasi saat ini menjadi tujuan.

Mungkin, ini juga muncul karena sebenarnya petugas yang ada di lapangan juga dilema. Di satu sisi, mereka harus menjalankan perintah atasan untuk melakukan penyekatan sekaligus mengamankan kebijakan larangan mudik. Sementara mereka juga paham bahwa pemudik yang nekat meski sudah dilarang juga punya alasan kuat dengan kenekatannya.

Hasilnya, dua pemahaman yang saling bertentangan tersebut haruslah dikompromikan atau dijabarkan di lapangan. Asal sudah memperoleh foto dokumentasi yang siap digunakan untuk lapor ke atasan maka sisanya adalah sisi kemanusiaan dari petugas-petugas di lapangan untuk mencoba memahami alasan kuat bagi ribuan atau mungkin jutaan orang yang tetap ingin mudik.

Lalu bagaimana dengan sejumlah berita termasuk video yang mengisahkan ribuan pemudik diblokade atau kisah mobil VW yang nekat menerobos barikade petugas? Kisah tersebut juga tidak salah. Untuk kisah-kisah yang terpantau publik dan disiarkan secara live, maka mengamankan kebijakan pemerintah adalah prioritas utama.

Sementara itu untuk titik-titik yang tidak menjadi perhatian publik, sesungguhnya kita melihat sejumlah kelonggaran yang banyak diberikan oleh petugas kepada publik. Beberapa pemudik yang sudah prepare dengan berbagai dokumen juga banyak yang mengaku tidak mengalami pemeriksaan sepanjang perjalanan mereka hingga sampai ke daerah asal. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved