Breaking News:

Berita Kriminalitas

Pelecehan Anak di Masjid, Dosen Sosiologi UBB Sebut Tidak Ada Ruang Aman bagi Anak dan Perempuan

Beredarnya video seorang pria dewasa melakukan pelecehan terhadap anak perempuan di Masjid Baitul Makmur Kecamatan Girimaya

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
bangkapos.com
Sosiolog sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Luna Febriani. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Beredarnya video seorang pria dewasa melakukan pelecehan terhadap anak perempuan di Masjid Baitul Makmur Kecamatan Girimaya, Minggu (16/5/2021) lalu sempat viral di media sosial.

Pria tersebut berbuat tak senonoh pada bocah perempuan itu, saat ikut salat Isya bersama ibunya.

Kelakuan bejat pria itu terekam kamera pengawas atau CCTV masjid.

Akademisi atau Dosen Sosiologi Unversitas Bangka Belitung, Luna Febriani menilai tidak ada ruang aman bagi anak dan perempuan.

Kondisi ini mengingat masifnya kekerasan seksual yang terjadi pada anak dan perempuan tanpa mengenal tempat dan ruang.

"Seperti yang terjadi baru-baru ini di Kota Pangkalpinang, yang mana terjadi kekerasan seksual terhadap seorang anak dan hal tersebut dilakukan di rumah ibadah yang merupakan tempat suci bagi banyak orang. Bayangkan, di tempat suci dan tempat ibadah pun keselamatan anak dan perempuan terancam, apalagi ditempat-tempat yang umum dan tempat yang rawan," ungkap Luna, Rabu (19/5/2021).

Polisi Kumpulkan Alat Bukti dan Petunjuk Kasus Pelecehan Anak di Rumah Ibadah, Pelaku Terus Diburu

FAKTA Lengkap dan Kronologi Kasus Pelecehan di Masjid Baitul Makmur Pangkalpinang yang Terekam CCTV

Pelaku yang melakukan pelecehan di masjid
Pelaku yang melakukan pelecehan di masjid (Tangkapan Layar CCTV)

Lebih lanjut, ia menyebutkan di Indonesia, kekerasan seksual yang terjadi pada anak dan perempuan ibarat fenomena gunung es, yang mana tampak luar atau yang terlihat jumlahnya sedikit namun yang tidak tampak jauh lebih banyak.

"Mengapa yang tidak terlihat justru jumlahnya banyak, hal ini tidak dapat dilepaskan dari budaya yang ada pada masyarakat kita yang mana menjunjung tinggi budaya malu, yang mana ini kemudian menjadikan mereka yang menjadi korban kekerasan seksual akan  menganggap tabu dan aib jika melaporkan atau mepublish kekerasan seksual yang terjadi pada diri dan keluarga mereka," kata Luna.

Maka dari itu, kebanyakan memilih solusi diam dan cenderung mengambil solusi menikahkan korban kekerasan seksual dengan pelaku kekerasn seksual itu sendiri, sehingga, ini menjadikan banyak kasus tidak terekspos dan tidak tertangani. 

Luna membeberkan data yang dilansir dari catatan tahunan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa di tahun 2020, terdapat 8.234 kasus kekerasan terhadap perempuan  di mana kekerasan tersebut didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga atau personal seperti kekerasan dalam hubungan pacaran dan keluarga termasuk inses sebesar 79 persen, selanjutnya diikuti kekerasan dalam ranah publik atau komunitas sebesar 21 persen.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved