Breaking News:

Kapolda Babel: Pancasila Sebagai Perekat Bangsa, Ideologi yang Cocok untuk Indonesia

Ada yang memandangi cocok untuk bangsanya ada yang memandang ini tidak cocok untuk bangsanya.

Penulis: Antoni Ramli
Editor: khamelia
bangkapos.com
Kapolda Kepulauan Bangka Belitung, Irjen Pol Anang Syarif Hidayat, beserta Wakapolda Brigjen Pol Umar Dani, beserta PJU lainnya. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kapolda Kepulauan Bangka Belitung menyebut peringatan hari Pancasila, Selasa (1/6/2021) besok banyak menuai kontroversi.
Kontroversi tersebut muncul setelah pengkajian mendalam, sehingga tanggal 1 Juni pemerintah menetapkan sebagai hari lahirnya Pancasila.

"Besok kita akan melaksanakan hari lahirnya Pancasila. Permasalahan awal banyak sekali kontroversi setelah dilakukan pengkajian secara mendalam, maka diputuskan pemerintah dalam 2 tahun terakhir ini tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila," kata Anang, disela selasa pemberian penghargaan saat apel pagi, Senin (31/5/2021) tadi pagi.

Menurut Anang, Pancasila sebagai perekat bangsa, sebagai ideologi bangsa, yang paling cocok untuk bangsa Indonesia. Berbagai negara sudah mulai melihat Pancasila dari sudutnya masing-masing.

Ada yang memandangi cocok untuk bangsanya ada yang memandang ini tidak cocok untuk bangsanya.

Bagi bangsa Indonesia yang berada dalam keberagaman suku agama, ras, adat istiadat, budaya, bahasa dan sebagainya.

"Dengan modal Pancasila dan perangkat-perangkat lainnya yang dapat menyatukan kita itu dengan minimnya. Filosofi ini yang paling penting. Di Bangka Belitung ini pun berbagai macam suku ras, adat, budaya, bahasa, dan agama, walaupun mayoritas masyarakat melayu Bangka, tetapi masih ada percik-percik yang lain," imbuhnya

Anang meminta, percikan tersebut menjadi  pelajaran bersama,  sehingga keberagaman yang telah tata dan rawat membuat suasana kehidupan berbangsa lebih nyaman dan damai.

"Kita melihat berbagai macam provinsi masih ada gejala-gejala berkaitan dengan masalah keberagaman, hal ini jangan sampai terjadi tempat kita, keberagaman ini, keniscayaan, kenyataan yang harus kita hadapi. Tapi persatuan dan kesatuan tidak boleh kita tinggalkan," pungkasnya.

"Rekan-rekan yang berada di masyarakat bertemu dengan mahasiswa, bertemu dengan kelompok apapun, apabila ada permasalahan yang mendalam, jangan lupa bangsa Indonesia ada keberagaman ada kebhinekaan yang harus menghargai satu dengan yang lain," imbuhnya.

(bangkapos.com / Anthoni Ramli)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved