Breaking News:

Terlilit Utang Rp 70 Triliun dan Minta Karyawannya Pensiun Dini, Ini Cara Garuda Indonesia Bertahan

Di sisi lain, utang perseroan terus menumpuk hingga mencapai Rp 70 triliun dan diperkirakan terus bertambah Rp 1 triliun tiap bulannya

Editor: Iwan Satriawan
Flickr/Gilang Fadhli
Ilustrasi maskapai Garuda Indonesia. 

Maskapai flag carrier itu tengah dalam upaya restrukturisasi. Salah satu langkah manajemen yakni berupa pengurangan karyawan melalui program pensiun dini.

Koordinator Serikat Bersama Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia, Tomy Tampatty, di mengatakan masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk penyelamatan PT Garuda Indonesia sebagai aset bangsa yakni opsi Merah Putih NKRI.

"Masih banyak potensi lain yang bisa ditempuh untuk penyelamatan Garuda Indonesia sebagai flag carrier. Kami akan sampaikan beberapa usulan kepada Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat," kata Tomy dilansir dari Antara, Sabtu (29/5/2021).

Selain menemui Joko Widodo, Serikat Bersama yang juga tergabung di dalamnya seperti Asosiasi Pilot Garuda dan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia, akan menemui Ketua MPR, DPR, DPD, Menteri BUMN, Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, Komisi V, komisi VI dan komidi XI DPR RI.

Tomy juga menuturkan bila seluruh karyawan Garuda Indonesia tetap optimis dan solid menjaga kelangsungan perusahaan dan berkomitmen tinggi, bekerja dengan baik untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh pelanggan.

Dirinya juga menegaskan bila seluruh karyawan sudah menjalani pemeriksaan kesehatan antigen sebelum penerbangan dan fasilitas yang digunakan sudah aman.

Artinya dirinya memastikan bila seluruh kegiatan penerbangan tetap mematuhi aturan yang berlaku dan berharap kedepan berjalan normal lagi.

Tomy menyebut ada lini bisnis yang perlu dimaksimalkan agar keuangan Garuda Indonesia bisa lebih baik. Misalnya memaksimalkan kerja sama dengan para lessor.

“Permasalahan utama kita dengan lessor. Negosiasi dengan lessor ini harus dilakukan dengan masksimal karena ini berkaitan dengan alat produksi. Jika ini bisa dimaksimalkan, pensiun dini akan menjadi opsi terakhir,” kata dia.

Di sisi lain, Tomy menilai saat ini sudah ada langkah pembenahan, namun ia menilai kurang maksimal, baik dengan lessor, vendor, maupun dengan lini bisnis lain seperti kargo ataupun carter.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved