Breaking News:

Human Interest Story

Berawal dari Hobi, Acik Raup Jutaan Rupiah Jadi Peternak Ulat Hongkong

Acik, satu dari sekian banyak peternak ulat Hongkong di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Ribuan ulat Hongkong di peternakan Acik, di Jalan Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacang Pedang, Kecamatan Gerunggang, Rabu (02/06/2021). 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Acik, satu dari sekian banyak peternak ulat Hongkong di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sejak 2019 lalu, pria 48 tahun ini sudah menekuni sebagai peternak ulat Hongkong rumahan, pekerjaan yang memerlukan ketekunan, keuletan dan konsistensi. 

Peternakan ulat Hong Kong Acik berjarak 2 kilometer dari pusat Kota Pangkalpinang, atau tepatnya terletak di Jalan Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacang Pedang, Kecamatan Gerunggang.

Di rumahnya itu, Acik membudidayakan ulat dengan nama latin Tenebrio molitor mulai dari larva hingga hingga menjadi kumbang.

Aroma menyengat pakan pelet sudah mulai tercium sesaat sebelum memasuki gudang pembudidayaan ulat Hongkong di belakang rumahnya.

Di dalam ruangan berukuran 3 x 2 meter itu tampak puluhan kotak berisikan larva hingga kumbang yang tersusun rapi.

Dalam beberapa kotak terlihat ribuan ekor ulat dengan warna kuning kecoklatan yang mengkilap serta bergerak lincah.

Ulat-ulat ini dipelihara di dalam 35 kotak berlapis lakban warna coklat berukuran 60 x 40 centimeter dan tinggi 7 centimeter.

Selain itu, ada juga tampak beberapa kandang burung hias dan kicau di langit-langit gudang Acik.

Acik bercerita, awal mula dirinya menjadi peternak ulat Hongkong berawal dari iseng dan hobi memelihara burung kicau.

“Awalnya karena ingin berternak sendiri, karena hobi burung kicau. Dulu kalau mau dapat ulat Hongkong harus beli,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (2/6/2021). 

Ribuan ulat Hong Kong di peternakan Acik, di Jalan Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacang Pedang, Kecamatan Gerunggang, Rabu (2/6/2021).
Ribuan ulat Hongkong di peternakan Acik, di Jalan Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacang Pedang, Kecamatan Gerunggang, Rabu (2/6/2021). (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Bapak dua orang anak ini mengatakan, suka dan duka menjadi peternak ulat sudah ia rasakan.

Apalagi, ditengah pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Dengan ditiadakannya acara yang menimbulkan keramaian seperti lomba burung kicau, banyak para pecinta burung yang mengurangi pembelian pakan ulat.

“Saat ini kan tidak ada lomba burung kicau jadi pembeli ulat Hongkong juga mulai menurun,” sebut Acik.

Beruntungnya, Acik memiliki kebun milik keluarga yang ditanami buah-buahan. 

Sedikit banyak buah-buahan dikebun itu dapat meringankan bebannya memberi pakan selama membudidaya ulat agar tak merugi.

“Untuk alternatif lain di tengah pandemi ini untungnya ada kebun milik keluarga. Jadi, bisa memberi makan ulat dari hasil kebun seperti pepaya,” terang Acik.

Acik menuturkan, untuk perawatan ulat Hongkong bisa dikatakan gampang-gampang susah, bahkan bisa lebih rumit dari hewan ternak lainnya.

Dalam membudidayakan ulat Hong Kong perlu ketelitian dan kesabaran sebab ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan.

Agar ulat tumbuh dan berkembang sehat, ulat harus dirawat dengan suhu kamar diangka 27 derajat celcius serta kelembaban minimal 20 persen dan maksimal 90 persen.

“Kalau tidak ditunjang dengan lingkungan yang baik maka produksi tidak akan optimal. Pernah gagal panen, beberapa bulan terakhir karena cuaca ekstrim. Ulat Hongkong ini tidak bisa hidup di dalam suhu ruangan yang terlalu panas begitu juga terlalu dingin,”  jelas Acik.

Ribuan ulat Hong Kong di peternakan Acik, di Jalan Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacang Pedang, Kecamatan Gerunggang, Rabu (2/6/2021).
Ribuan ulat Hongkong di peternakan Acik, di Jalan Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacang Pedang, Kecamatan Gerunggang, Rabu (2/6/2021). (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Untuk tempat hidupnya, ulat itu memerlukan media hidup berupa pollard gandum atau dedak.

Dalam satu bulan, setidaknya Acik harus membeli 50 kilogram pelet sebagai pakan ulat. Sedangkan untuk minum, per hari ulat membutuhkan 3 kilogram timun atau pepaya.

Butuh waktu sekitar 12 hari agar ribuan induk kumbang bisa bertelur. Telur yang menetas kemudian dipilih dengan ayak lalu dipindahkan ke kotak khusus.

“Kalau dari bertelur hingga siap panen itu butuh waktu 90 hari itu juga tergantung cuaca. Jika indukan sudah banyak, dalam waktu satu bulan bisa dua hingga tiga kali panen. Sekali panen bisa 2 kilogram lebih,” kata pria yang juga membuka jasa sewa tenda ini

Usaha ulat Hongkong juga bisa menjadi bisnis yang cukup menjanjikan. Harga jual ulat mencapai Rp 100.000,- per kilogram. 

Setidaknya Acik dapat meraup omzet hingga Rp 1,6 juta perbulan dari beternak ulat.

“Untuk sekarang yang dalam satu bulan yang dapat dipanen sebanyak 16 kotak. Per satu kotak biasanya mencapai 1 kilogram ulat,” ungkap Acik. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved