Breaking News:

Tribunners

Ikhtiar Mendidik Anak dengan Penuh Kesabaran

Anak yang sering diperhatikan kesehatannya oleh orang tua atau pendidik, maka akan merasa bahwa dirinya penting

Editor: suhendri
Ikhtiar Mendidik Anak dengan Penuh Kesabaran
ISTIMEWA
Johan, S.Ag - Guru SMA Negeri 1 Pangkalanbaru

DISADARI atau tidak oleh para pendidik maupun orang tua, bahwa anak didik akan mengalami beberapa tingkatan fase. Inilah yang dimaksud dengan masa peralihan dan persiapan anak didik untuk menjalani fase-fase mereka sesuai dengan kapasitas kemampuannya.

Anak didik satu dengan lainnya memiliki fase berbeda baik gaya ataupun masa waktunya. Dengan adanya perbedaan inilah akan menuntut pendidik atau orang tua memperlakukan dan memperhatikan mereka dengan cara yang berbeda sesuai dengan kondisi anak didik sesungguhnya.

Untuk dapat mengantarkan anak didik pada fase tumbuh kembangnya, diperlukan banyak perhatian dari pendidik atau orang tua. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan ,di antaranya aspek fisik, inteligensi, jenis kelamin, bakat, dan kesehatan.

Sebagai pendidik atau orang tua perlu menyadari bahwa setiap anak didik mempunyai sifat bawaan fisik yang hampir tidak dapat diubah, juga hampir tidak dapat dipengaruhi oleh gizi atau lainnya seperti bentuk tubuh dan warna kulit.

Kondisi yang terlihat secara fisik tiap anak berbeda. Penanganan terhadap anak didik yang mempunyai bentuk fisik normal dan elok tentunya akan terasa lebih mudah bagi sebagian pendidik.

Sebaliknya dalam menghadapi keadaan fisik anak didik yang kurang elok namun dalam bentuk sempurna, maka upaya yang harus dilakukan pendidik adalah memberikan arahan kepada anak didik tentang keberagaman fisik setiap individu.

Selain itu, memberikan motivasi agar senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala pemberian-Nya melalui bentuk tubuh yang lebih indah daripada lainnya. Dengan demikian, pembandingnya bukan kepada yang lebih tinggi darinya tetapi melihat kepada yang lebih bawah dari anak tersebut. Sebab, dikhawatirkan anak didik yang mempunyai bawaan sifat pemalu dari orang tuanya, ia akan makin minder terhadap teman-temannya yang lain.

Aspek kedua yakni jenis kelamin. Jika diperhatikan hak dan kewajiban dalam menyelesaikan aktivitas antara anak laki-laki dan perempuan sama. Namun jenis kelamin yang merupakan identitas bawaan ini akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam segala aspek. Seperti kemampuan kognitif, berbahasa, memilih permainan, pakaian serta keterampilan.

Oleh karena itu, pendidik harus konsisten untuk mengarahkan anak didiknya dengan tetap mempertimbangkan berbagai kemampuan yang dimilikinya tanpa harus memperhatikan jenis kelamin. Sebab, terkadang karena fanatik dengan perbedaan jenis kelamin, maka anak perempuan terkesan dididik menjadi lemah dan tidak terlalu berkembang daripada anak laki-laki.

Selain jenis kelamin, aspek lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat inteligensi anak didik atau kecerdasan. Kecerdasan merupakan salah satu bagian yang memengaruhi perkembangan anak didik. Kecerdasan sendiri dapat dipengaruhi oleh keturunan dan keadaan lingkungan.

Dengan demikian, sebagai pendidik hendaknya menyadari bahwa ada anak yang secara keturunan memang cerdas, kurang cerdas, dan bahkan ada yang bodoh sekali. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban pendidik untuk mengembangkan setiap kecerdasan yang mereka miliki ke tingkat yang lebih maksimal.

Berpijak pada kisah Ibnu Hajar, seseorang yang awalnya bodoh sekali, ketika melihat tetesan air yang jatuh di bebatuan sampai lubang, serentak ia berpikir dan merenung. Sebuah batu keras yang hanya ditetesi air ternyata bisa berlubang.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved