6 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Tekuni Budidaya Ulat Hongkong
Selama burung kicauan ataupun ikan hias masih menjadi hobi dan dibudidayakan oleh masyarakat, ulat hongkong akan laris manis di pasaran.
BANGKAPOS.COM , BANGKA – Bagi sebagian orang ulat merupakan hewan melata yang menjijikan.
Namun beda halnya dengan Acik (48), Warga Jalan Letkol Letkol Saleh Ode, Kelurahan Kacangpedang, Kecamatan Gerunggang, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung (Babel)
Melalui tangan dinginnya, ulat Hongkong yang memiliki kandungan protein sangat tinggi juga kalori yang sangat berguna untuk pakan berbagai hewan lainnya bisa bisa menjadi bisnis yang cukup menjanjikan
Ulat hongkong adalah larva dari kumbang kecil.
Biasanya ulat ini dijadikan sebagai pakan burung untuk ikan hias sampai hamster.
Harga jual Ulat Hongkong saja bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram.
Dengan beternak ulat Acik bisa mendapatkan omzet hingga Rp1,6 juta per bulan.
Ulat bernama latin Tenebrio molitor sering digunakan sebagai pakan ikan, burung, reptil dan berbagai jenis binatang peliharaan lainnya.
Namun, selama burung kicauan masih menjadi hobi dan dibudidayakan oleh masyarakat, ulat hongkong akan laris manis di pasaran.
Selain burung, binatang peliharaan lainnya yang lazim diberi makan jenis ulat ini, belum lama ulat hongkong telah mendapat izin dari Badan Keselamatan Makanan Eropa atau European Food Safety Authority (EFSA) sebagai makanan manusia.
Tertarik untuk beternak ulat hongkong dengan perawatan yang cukup mudah dan dapat menghasilkan jutaan rupiah, berikut Acik beberkan 6 hal yang perlu diperhatikan saat menekuni budidaya ulat hongkong:
1. Menyediakan tempat budidaya
Sediakan tempat yang akan dijadikan untuk budidaya ulat Hong Kong.
Biasanya Acik menyiapkan tempat berupa kotak dengan ukuran 60 cx 40 centimeter dengan tinggi 7 centimeter yang nantinya bakal dijadikan sebagai tempat ulat berkembang biak.
Jangan lupa kotak tersebut dilapisi dengan lakban warna coklat. Hal itu menjaga agar ulat tidak bisa keluar dari kotak.
Baca juga: Belajar Budidaya Ulat Hongkong untuk Pakan Burung: Harga dan Apa Bedanya dengan Ulat Jerman
2. Tempatkan ulat hongkong di wadah berbeda
Ulat Hong Kong mengalami metamorfosis yang sempurna. Ulat Hongkong berada di fase larva setidaknya selama 8-10 minggu. Maka dari itu saat ulat berubah menjadi kumbang, pastikan pupa ulat Hong Kong dipindahkan ke wadah yang berbeda.
Kebanyakan spesies kumbang adalah karnivora dan akan memakan ulat hongkong tersebut. Apabila tidak, kumbang dan ulat akan memakan pupa tersebut jika tidak dipindahkan.
Jika terdapat pupa di dalam wadah ulat Hongkong, pindahkan pupa tersebut ke wadah yang dilapisi tisu.
Pupa akan menempel pada lapisan tisu tersebut ketika bermetamorfosis.
Ulat Hongkong berada di tahap pupa selama 6-24 hari.
3. Ganti lapisan wadah satu minggu sekali
Anda harus menambahkan lebih banyak makanan apabila habis. Ganti lapisan bawah wadah setelah beberapa minggu. Pastikan lapisan bawah wadah bebas dari jamur dan tidak berbau busuk.
Kita dapat menggunakan saringan untuk memisahkan ulat Hongkong dari lapisan bawah wadah ketika akan diganti.
Ini juga bisa dilakukan untuk memindahkan ulat Hongkong dari wadah untuk berbagai tujuan lain seperti menghindari predator seperti cicak.
4. Beri makan dan minum
Kumbang dan larva memakan makanan yang sama. Selalu cek makanan ulat dan kumbang setiap harinya.
Minimal ulat hongkong dan Kumbang harus diberi makan secukupnya setiap harinya. Untuk makan ulat dan kumbang cukup diberi pelet ikan maupun pollard gandum atau dedak.
Selain itu, untuk minum jangan lupa beri ulat Hong Kong timun atau pepaya muda. Sebab kedua buah-buahan tersebut merupakan sumber minum bagi ulat dengan wana kuning kecoklatan ini.
5. Perhatikan suhu ruangan
Salah satu kunci bisnis ulat hongkong adalah dalam hal manajemen pembibitan, yang harus dijaga suhu optimal pada 27-30 derajat celcius.
Karena jika suhu di bawah itu dapat menimbulkan efek yang negatif terhadap siklus reproduksi kumbang.
Apabila ingin kumbang bertelur dan melanjutkan siklus hidupnya, pastikan tempat tinggalnya bersuhu cukup hangat. Saat cuaca ekstim kita juga perlu memastikan suhu ruangan agar tetap stabil.
Sebaliknya, jika ulat hongkong berjumlah banyak dan akan digunakan sebagai pakan, kita dapat mendinginkan ulat hongkong di dalam wadah berlubang agar lebih tahan lama.
Akan tetapi, ulat Hongkong akan mati apabila ditempatkan di ruangan bersuhu kurang dari 4,5 derajat celcius.
6. Harus tekun, ulet dan terampil
Tips yang terakhir merupakan yang wajib dimiliki oleh setiap peternak. Untuk perawatan ulat Hongkong bisa dikatakan gampang-gampang susah, bahkan bisa lebih rumit dari hewan ternak lainnya.
Maka dari itu empat hal utama dalam manajemen pembibitan ini yakni adanya pakan, kontinuitas asupan air terjaga, tersedia media hidup, dan ukuran ulat bibitan dalam kotak harus seragam harus benar-benar diperhatikan. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210602-ulat-hongkong3.jpg)