Breaking News:

Tribunners

Menyelesaikan Konflik di Kelas

Peserta didik bukan hanya dibekali dengan teori-teori yang hebat, namun lebih pada praktik menghadapi konflik nyata

Editor: suhendri
Menyelesaikan Konflik di Kelas
ISTIMEWA
Martin da Silva, Pr - Pengajar di SMAK Seminari Mario John Boen Pangkalpinang

KARAKTER peserta didik selama sekolah dilanda Covid-19 sangat dipengaruhi metode pembelajaran daring (online). Selain mereka makin mandiri, namun di pihak lain mereka jatuh pada sikap apatis, kehilangan rasa empati dan simpati serta robohnya sikap solider dengan sesamanya.

Tentu tidak mudah mereka menyesuaikan diri dengan teman-temannya saat sekolah mulai tatap muka secara normal. Mereka butuh waktu yang ekstra untuk mengembalikan mood agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kelas dan sesamanya.

Pembelajaran bermakna dan menyenangkan yang diharapkan oleh sekolah belum maksimal berjalan bahkan merdeka dalam belajar pun terbelenggu. Konflik bisa saja terjadi antara peserta didik di ruang kelas.

Konflik dalam kelas

Saya pernah menyaksikan seorang peserta didik diminta oleh gurunya untuk belajar mandiri persiapan ulangan harian. Saat belajar, peserta didik itu bernyanyi sambil memukul dan mengetuk meja. Otomatis peserta didik lain terganggu dan seorang peserta didik bangun menegur dan mengetuk kepalanya. Sesaat kemudian terjadi konflik di dalam ruang kelas. Suasana kelas menjadi gaduh dan sangat mengganggu proses pembelajaran.

Barangkali ada kasus lain di kelas yang bisa menimbulkan konflik, misalnya dua atau tiga peserta didik yang merebut buku pelajaran, seorang peserta didik yang di-bully temannya, peserta didik yang menyembunyikan pensil atau pena temannya, dan lain sebagainya.

Kasus-kasus tersebut bisa melibatkan lebih banyak peserta didik dan dampaknya lebih parah bagi peserta didik lainnya. Bisa saja kasus-kasus konflik tersebut melibatkan peserta didik dan guru yang mengajar. Inilah kasus konflik yang sering ditemukan di ruang kelas.

Perlu suatu cara penyelesaian konflik di kelas yang khusus, terukur, mudah dicapai, relevan, dan tenggat waktu yang jelas. Dibiarkan berbahaya bagi peserta didik sebab mereka percaya bahwa saat mereka marah kepada seseorang, maka hanya ada satu cara yang mereka lakukan yaitu menyakiti orang tersebut.

Kepercayaan ini kemudian direfleksikan dan terintegrasi dalam dirinya. Apalagi respons dari guru yang menangani kasus tersebut dengan cara kekerasan. Ini memperkuat pemikiran peserta didik bahwa cara kekerasan jalan satu-satunya menyelesaikan konflik dan amarah.

Thomas Lickone dalam buku Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (1991) mengemukakan pendekatan resolusi konflik di kelas, yaitu mendesain kurikulum konflik dan pelatihan konflik. Tujuannya mendorong peserta didik agar mampu menyelesaikan konflik tanpa campur tangan pihak lain. Peranan guru hanya sebatas membantu peserta didik mengembangkan kompetensi menyelesaikan masalah.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved