Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tahun 2019-2021 Sebanyak 2.348 Siswa SMA/SMK di Bangka Belitung Drop Out, Ini Penyebabnya

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) disarankan untuk kembali membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah.

Penulis: Magang1 | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Bustami Rahman 

BANGKAPOS.COM , BANGKA –- Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) disarankan untuk kembali membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah.

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Bustami Rahman mengatakan, saran itu pihaknya keluarkan karena khawatir pembelajaran online yang kembali diperpanjang dengan alasan pandemi, justru akan menimbulkan dampak buruk.

Apalagi, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Bangka Belitung, sejak 2019 hingga 2021 sebanyak 2.348 siswa dari total 112.000 siswa tingkat SMA/SMK di Bangka Belitung Drop Out (DO) atau keluar dari sekolah.

Di mana 450 siswa yang di DO diantaranya karena kasus pernikahan dini didahului oleh kehamilan yang tidak direncanakan.

“Saya selaku dewan pendidikan kalau diminta saran dari gubernur, saya sarankan buka sekolah, syaratnya ikuti protokol Covid-19. Untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD-red) mengikuti saja,”  kata Bustami, Jumat (4/6/2021) kepada Bangkapos.com.

Menurut Bustami, pendidikan berbeda dengan pengajaran. Pengajaran bisa dilakukan secara online seperti saat ini yang hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan.

Sedangkan pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai.

“Teknologi kita juga masih belum memadai (untuk belajar online-red). Jadi, pendidikan harus tatap muka, harus ada bimbingan, bahasa tubuh, serta memarahi karena itu merupakan bentuk pendidikan,” jelas Bustami/

Selama pembelajaran secara online, kata Bustami, juga banyak siswa yang merasa bosan.

Kebosanan juga dapat menimbulkan hal yang lebih buruk dan akan menjadi masalah di masa yang akan datang.

“Bahkan stres berlebihan bisa menjadi depresi. Sekarang anak-anak lebih bebas, narkotika meningkat, kenakalan remaja, perkawinan muda hingga kehamilan diluar nikah,” tegas mantan Rektor UBB ini.

Kendati demikian, saat ini dengan adanya simulasi pembelajaran secara tatap muka merupakan hal yang baik bahkan terkesan efektif tanpa melepaskan embel-embel pandemi Covid-19.

“Itu efektif jika berbanding dengan pembelajaran dilakukan secara online. Tidak ada salahnya membagi jam pembelajaran,” sebut Bustami.

Lebih lanjut, pria kelahiran Belinyu ini berpesan kepada para siswa untuk yakin ujian tuhan seperti pandemi Covid-19 saat ini akan segera berakhir.

“Saat ini (kasus Covid-19) sudah melandai, tetapi tetap pertahankan protokol kesehatan Covid-19 untuk berjaga-jaga. Karena lebih baik mencegah dari pada mengobati,” pesannya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved