Breaking News:

Berita Sungailiat

Dinkes Bangka Turunkan Stunting Lewat Perubahan Perilaku Kader Kesehatan

ntuk menurunkan prevalensi stunting di Kabupaten Bangka, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangka menggelar Orientasi Komunikasi Antar Pribadi.

Penulis: edwardi | Editor: nurhayati
Ist/Dinkes Bangka
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangka menggelar Orientasi Komunikasi Antar Pribadi dalam strategi perubahan perilaku bagi kader kesehatan selama 6 hari, 2-9 Juni 2021 di Hotel Novilla Sungailiat. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Untuk menurunkan prevalensi stunting di Kabupaten Bangka, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangka menggelar Orientasi Komunikasi Antar Pribadi dalam strategi perubahan perilaku bagi kader kesehatan selama 6 hari, 2 hingga 9 Juni 2021 di Hotel Novilla Sungailiat.

Para peserta terdiri dari pengelola Program Promkes, Bidan Desa dan perwakilan Kader Kesehatan di 12 wilayah puskesmas se Kabupaten Bangka sebanyak 60 orang dibagi 2 angkatan. 

Kepala DInas Kesehatan Kabupaten Bangka, dr Then Suyanti mengatakan prevalensi stunting Kabupaten Bangka hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2013 sebesar 32,27 % dengan menetapkan 10 desa lokus d, yaitu Neknang, Marasenang, Saing, Air Duren , Mendo, Cengkong Abang, Kota Kapur, Penagan, Rukam dan Riding Panjang. 

"Untuk itu perlu upaya keras yang didukung semua sektor dalam penurunan prevalensi stunting yang menitik beratkan pada penanganan penyebab langsung adalah konsumsi makanan dan status infeksi," jelas dr Then Suyanti, Minggu (06/06/2021).

Menurutnya, penyebab tidak langsung terjadinya stunting meliputi, ketersediaan makanan, pola konsumsi, pola asuh, kebersihan sanitasi dan pelayanan kesehatan.

"Pencegahan stunting memerlukan intervensi gizi yang terpadu, yang mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif, intervensi yang terpadu untuk menyasar prioritas yang merupakan kunci keberhasilan perbaikan gizi dan tumbuh kembang anak serta pencegahan stunting," kata  Then Suyanti.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Kabupaten Bangka, Arlis Danita sekaligus ketua panitia mengatakan orientasi komunikasi perubahan perilaku melalui komunikasi antar pribadi diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam merubah perilaku dan kesadaran masyarakat, serta perilaku kunci yang berpengaruh pada resiko stunting dengan metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP).

“Untuk itu strategi nasional komunikasi perubahan perilaku yang terpadu diperlukan agar terjadi pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing pemangku kepentingan untuk mendukung komunikasi perubahan perilaku sebagai salah satu upaya dalam pencegahan stunting," kata Arlis.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved