Breaking News:

Ponpes Tahfidz Guntur Terbakar

Saat Terbangun Ustaz Guntur Terbelalak Api Melalap Dinding dan Atap Ponpes, Hingga Kini Masih Syok

Terkejut dan traumatis. Itulah kata yang menggambarkan kondisi Muhammad Guntur, ustaz yang mengajar di Pondok Pesantren Tahfidz Guntur ludes terbakar.

Penulis: Jhoni Kurniawan | Editor: nurhayati
Ist
Pondok pesantren santri Tahfidz Guntur Dusun Pengkalen Batu terbakar, hanya menyisakan baju yang dikenakan santri 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Terkejut dan traumatis. Itulah kata yang menggambarkan kondisi Muhammad Guntur, ustaz yang mengajar di Pondok Pesantren Tahfidz Guntur yang ludes terbakar di Dusun Pengkalen Batu Desa Ranggung Kecamatan Payung.

Guntur juga tak menyangka jika Pondok Pesantren Tahfidz Guntur tempatnya mengabdikan diri yang dibangun pada Februari 2021 lalu kini rata dengan tanah setelah ludes terbakar.

Kepada Bangkapos.com Guntur menceritakan jika pada Sabtu, (05/06/2021) sekitar pukul 22.00 WIB dirinya masih berkutat dengan laptopnya untuk mempersiapkan bahan-bahan pelajaran serta penilaian belajar bagi santri dan santriwati yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tahfidz Guntur di Dusun Pengkalen Batu.

"Sekitar pukul 22.00 WIB saya masih menyalakan laptop dan masih berkutat dengan pekerjaan. Seingat saya setelahnya saya tertidur dan terbangun lagi pada pukul 02.00 WIB untuk menyelesaikan pekerjaan dan kembali tidur," ungkap Guntur pada Senin, (07/06/2021) saat disambangi Bangkapos.com.

Namun menurut Guntur, sekitar pukul 03.00 WIB dirinya merasakan keributan dan juga kepanasan dan seketika matanya terbuka, kobaran api telah melahap bagian dinding dan atap bangunan utama pondok pesantren.

"Saat mata saya terbelalak, kobaran api ternyata telah memakan bagian dinding dan sebagian atap, seketika itu pula saya langsung berteriak dengan kencang supaya para santri dan santriwati bangun untuk menyelamatkan diri," cerita Guntur.

Tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, Guntur mengakui dirinya dan ustazah yang saat ini dilarikan ke KIM Pangkalpinang untuk mendapatkan pertolongan setelah mengalami luka bakar sempat mengelilingi bangunan pondok untuk membangunkan para santri yang masih terlelap tidur.

"Ustazah kami menjadi korban dan mengalami luka bakar karena saat itu ia berusaha untuk menyelamatkan santriwati yang masih terjebak di dalam pondok," terangnya.

Saat ini pondok pesantren yang dijadikan oleh Guntur untuk mengajar telah rata dengan tanah dan hanya menyisakan kenangan bersama dengan beberapa pondok-pondok kecil yang berada di sekitar bangunan utama yang telah terbakar.

"Saat ini bangunan utama tempat kami belajar telah ludes dan habis terbakar, saat ini hanya ada pondok-pondok kecil yang kami jadikan tempat untuk berteduh dan tidur," ungkap Guntur.

Menurut pengakuan Guntur, pondok kecil tersebut saat ini dijadikan sebagai area untuk belajar dan keperluan lainnya.

Saat ini Guntur mengakui dirinya masih merasa syok atas peristiwa yang menimpa dirinya.

Bahkan saat ia ingin tidur, kobaran api yang melahap pondok masih terngiang jelas dan mengusiknya.

Santri Tetap Ingin Belajar dan Mengaji

Kendatipun pondok pesantren beserta isinya habis terbakar, namun Guntur masih merasa bangga karena para santri dan santriwati yang ada di Dusun Pengkalen Batu tak berhenti untuk meminta diajarkan mengaji dan menghapal Al Qur'an.

"Meskipun hanya menyisakan pakaian yang tertempel di badan, para santri masih bersemangat untuk mengaji sehingga kami pun merasa dikuatkan," kata Guntur.

Saat ini lanjutnya aktivitas pembelajaran belum dapat dilakukan lantaran buku-buku termasukAl Qur'an, alat tulis serta perlengkapan ibadah lainnya masih belum memadai.

"Saat ini kami hanya melanjutkan hapalan-hapalan dan mengaji dengan menggunakan Al Qur'an yang diberikan kepada kami. Namun ini semua merupakan permintaan para santri sehingga kami pun merasa terus bersemangat," terangnya.

Guntur mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan meringankan beban yang saat ini menimpa Pondok Pesantren Tahfidz Guntur dan senantiasa memberikan semangat kepadanya serta 20 santri dan santriwati. (Bangkapos.com/Jhoni Kurniawan)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved