Breaking News:

Sumiati Berharap Anaknya Belajar di Sekolah, Dewan Pendidikan Babel: Pendidikan Harus Tatap Muka

“Sebagai orang tua kami berharap anak anak kapan sekolah, bahkan kita juga sempat mendesak pihak sekolah untuk tata muka.."

Editor: rusmiadi
Bangkapos.com
Focus Group Discussion (FGD) sinergitas bersama implementasi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 di wilayah Provinsi Babel, di Bangka City Hotel, Kamis, (3/6/2021) 

BANGKAPOS.COM, PANGKALPINANG - Tak sedikit orang tua mengharapkan sekolah menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka di kelas, disaat masa pandemi Covid-19.

Bukan tidak ada alasan orang tua mengharapkan pemerintah daerah agar membuka kembali sekolah untuk menggelar KBM dengan protokol kesehatan. Karena belajar secara online menambah beban orang tua.

Seperti diungkapkan Suamiati yang memiliki tiga orang anak ini, terpaksa harus membeli tiga unit gawai atau handphone. Masing-masing gawai diberikan kepada tiga orang anaknya yang saat ini masih menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar dan menengah di Pangkalpinang.

Hal itu dilakukan karena sistem pembelajaran secara dalam jaringan (daring) atau online selama pandemi. Saat belajar online dari rumah dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, melalui handphone.

“Dengan tiga anak khususnya, saya pribadi fasilitasi tiga handphone. Dengan handphone, mereka aktif belajar online untuk mencari jawaban dari pertanyaan pekerjaan rumah (PR-red) yang diberikan oleh guru, yang harus mereka cari di google,” ujarnya pada saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) sinergitas bersama implementasi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 di wilayah Provinsi Babel, di Bangka City Hotel, Kamis, (3/6/2021)

Terlepas dari tugasnya sebagai seorang ibu, Sumiati juga kesulitan jika harus mendampingi anaknya dalam belajar setiap hari. Dengan berat hati ia tak bisa mengawasi buah hatinya lantaran sebagai seorang Chief Executive Officer (CEO) Bangka City Hotel, Sumiati juga dituntut untuk kembali bekerja.

Alhasil, anak-anaknya dengan bebas dapat bermain game online setelah selesai mengerjakan tugas.

“Setelah belajar, sementara orang tua yang harus beraktivitas kerja mau tidak mau dengan jam (belajar-red) yang berbeda dengan anak belajar online mau tidak mau kami tinggalkan mereka di rumah,” ungkap Sumiati.

Selain itu, ia juga mengaku kewalahan. Meskipun di rumahnya ada seorang Asisten Rumah Tangga (ART) tidak bisa membimbing untuk belajar dengan maksimal dan tak dapat mengontrol aktivitas anak-anaknya dirumah. Apalagi dua orang anaknya sudah menginjak di bangku SMP yang dikhawatirkan mengakses situs yang rentan akan pornografi.

“Sebagai orang tua kami berharap anak anak kapan sekolah, bahkan kita juga sempat mendesak pihak sekolah untuk tata muka. Maka dari itu dunia pendidikan harus dimaksimalkan. Apalagi, anak yang menjelang dewasa dikhawatirkan membuka situs yang rawan, karena itu sangat berbahaya. Ditambah lagi sebagai orang tua harus membimbing mereka agar maksimal sesuai harapan,” pungkasnya.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved