Breaking News:

Sumiati Berharap Anaknya Belajar di Sekolah, Dewan Pendidikan Babel: Pendidikan Harus Tatap Muka

“Sebagai orang tua kami berharap anak anak kapan sekolah, bahkan kita juga sempat mendesak pihak sekolah untuk tata muka.."

Editor: rusmiadi
Bangkapos.com
Focus Group Discussion (FGD) sinergitas bersama implementasi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 di wilayah Provinsi Babel, di Bangka City Hotel, Kamis, (3/6/2021) 

Kendati demikian, Sumiati berharap pemerintah dapat mengevaluasi dunia pendidikan selama pandemi Covid-19.
Meskipun pemerintah memberikan subsidi kuota internet hal itu terkesan percuma, lantaran masih banyak masyarakat yang tidak mampu untuk membeli handphone.

Senada dikatakan Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Babel, Bustami Rahman, terkait kekhawatiran dari pembelajaran online yang digelar selama pandemi bila diperpanjang akan menimbulkan dampak buruk.

Apalagi, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Babel, sejak 2019 hingga 2021 sebanyak 2.348 siswa dari total 112.000 siswa tingkat SMA/SMK di Babel Drop Out (DO) atau keluar dari sekolah. Di mana 450 siswa yang di DO diantaranya karena kasus pernikahan dini didahului oleh kehamilan yang tidak direncanakan.

“Saya selaku dewan pendidikan kalau diminta saran dari gubernur, saya sarankan buka sekolah, syaratnya ikuti protokol Covid-19. Untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD-red) mengikuti saja,” ujar Bustami selaku narasumber pada FGD sinergitas bersama implementasi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 di wilayah Provinsi Babel.

Menurut Bustami, pendidikan berbeda dengan pengajaran. Pengajaran bisa dilakukan secara online seperti saat ini yang hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan. Sedangkan pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai.

“Teknologi kita juga masih belum memadai (untuk belajar online-red). Jadi, pendidikan harus tatap muka, harus ada bimbingan, bahasa tubuh, serta memarahi karena itu merupakan bentuk pendidikan,” jelas dia.

Selama pembelajaran secara online, kata Bustami, juga banyak siswa yang merasa bosan. Kebosanan juga dapat menimbulkan hal yang lebih buruk dan akan menjadi masalah di masa yang akan datang.

“Bahkan stres berlebihan bisa menjadi depresi. Sekarang anak-anak lebih bebas, narkotika meningkat, kenakalan remaja, perkawinan muda hingga kehamilan diluar nikah,” tegas mantan Rektor UBB ini.

Kendati demikian, saat ini dengan adanya simulasi pembelajaran secara tatap muka merupakan hal yang baik bahkan terkesan efektif tanpa melepaskan embel-embel pandemi Covid-19.

“Itu efektif jika berbanding dengan pembelajaran dilakukan secara online. Tidak ada salahnya membagi jam pembelajaran,” sebut Bustami.
Lebih lanjut, pria kelahiran Belinyu ini berpesan kepada para siswa untuk yakin ujian tuhan seperti pandemi Covid-19 saat ini akan segera berakhir.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved