Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Limbah Medis Selama Covid-19 Masih Meningkat, Pembakaran Limbah di RSUD Depati Hamzah 80 Kg Perjam

Untuk pengolahan limbah medis pihaknya sudah mempunyai Incinerator atau alat pembakaran sampah yang standar dari Kementrian

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: khamelia
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Direktur RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Muhamad Fauzan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah Kota Pangkalpinang menjadi tempat pembuangan atau penampungan terakhir dari limbah medis yang dihasilkan dari 7 Puskesmas, dan beberapa klinik lainnya di Kota Pangkalpinang, bahkan beberapa rumah sakit lainnya di daerah lain.

Direktur RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Muhamad Fauzan menyebutkan, untuk pengolahan limbah medis pihaknya sudah mempunyai Incinerator atau alat pembakaran sampah yang standar dari Kementrian Lingkungan Hidup RI, serta dilengkapi izin yang lengkap.

Kata Fauzan, limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) atau infeksius memang dibedakan dengan limbah medis lainnya.

Diakui Fauzan selama pandemi covid-19 memang limbah medis meningkat, apalagi limbah medis masker.

Dia menyebutkan, selama pandemi covid-19 di Bangka Belitung sedang meningkat lalu limbah medis yang masuk di RSUD Depati Hamzah hingga 1 ton dalam satu bulannya.

Sementara selama proses vaksinasi yang juga menghasilkan sampah medis berupa jarum suntik, Fauzan menyebut memang ada peningkatan limbah jarum suntik, namun berapa jumlahnya tersebut ia belum mengetahui secara pasti.

"Yang jelas selama covid-19 ini sampah medis kita meningkat, apalagi sejak awal-awal covid kemarin, dan sekarang kita juga masih dengan covid-19 dan jumlah sampah masih tetap banyak dan meningkat, meskipun sekarang sudah mulai berkurang sebab kita nakes tidak lagi gunakan baju hazmat berlebih seperti awal-awal," kata Fauzan kepada Bangkapos.com, Selasa (8/6/2021).

Sementara untuk limbah medis covid-19 sebetulnya tidak ada pembedaan, kata Fauzan hanya saja dalam penanganan limbah medis covid-19 lebih dilakukan dengan kehati-hatian menggunakan alat pelindung diri (APD) sebab tergolong ke dalam sampah infeksius.

"Jadi setelah semuanya terkumpulkan harus dibakar menggunakan double chamber dengan pembakaran lebih dari 1.200 drajat celcius. Serta kami juga sudah ada alat penghancur jarum suntik setelah itu baru dibakar menggunakan mesin Incinerator," jelasnya.

Fauzan menuturkan, sebelum ada Incinerator atau pembakaran sampah yang baru, sempat terjadi penumpukan limbah medis di RSUD, sebab masih melibatkan pihak ketiga untuk pembakarannya.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved