Breaking News:

Berita Pangkalpinang

38 Kasus DBD di Pangkalpinang Hingga Akhir Mei, 3 Meninggal Dunia, Kadinkes Minta Waspada

Untuk sementara, angka tersebut termasuk nomor dua tertinggi di Bangka Belitung setelah Kabupaten Belitung.

Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: khamelia
Kolase KOMPAS/RADITYA HELABUMI dan Freepik
Obat alami DBD, konsumsi 3 makanan ini bisa sembuhkan demam berdarah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang dr. Masagus M Hakim (MH) mengatakan hingga akhir Mei lalu ada 38 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan tiga orang meninggal dunia di Kota Pangkalpinang.

Untuk sementara, angka tersebut termasuk nomor dua tertinggi di Bangka Belitung setelah Kabupaten Belitung.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, kasus terbanyak terjadi pada bulan Januari lalu hingga 14 kasus bahkan meninggal dua orang, dan bulan Februari sebanyak 10 kasus, bulan Maret enam kasus, bulan April dua kasus, hingga akhir Mei enam kasus dan meninggal satu orang.

Hakim meminta masyarakat tetap waspada terhadap DBD yang biasanya akan meningkat seiring dengan datangnya musim penghujan.

Namun kata Hakim, hingga saat ini belum ada peningkatan yang begitu signifikan di Kota Pangkalpinang.

"Untuk saat ini masih belum ada kenaikan yang signifikan, tapi kalau temuan DBD ini sudah ada beberapa yang memang disebabkan oleh musim penghujan ini," kata Hakim kepada Bangkapos.com, Kamis (10/6/2021).

Meski demikian, Hakim minta masyarakat untuk tetap waspada dengan DBD namun tidak melupakan protokol kesehatan agar tehindar pula dari Covid-19.

"Karena ini sudah masuk musim penghujan yang sangat mendukung berkembangnya nyamuk penyebab DBD. Yang jelas kita harus tetap waspada terhadap penularan covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Namun jangan lupa masyarakat juga harus waspada dengan DBD," sebutnya.

Hakim menegaskan, yang paling utama dalam penanggulangan DBD adalah PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui kegiatan menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas.

"Dan juga mencegah gigitan nyamuk (3M plus), dengan cara mengimplementasikan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J). Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dan mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik), Yang terakhir adalah pengendalian vektor salah satunya dengan fogging," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved