Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Anggaran Operasional Satgas Covid-19 Tak Kunjung Cair, Gubernur Babel Sebut Anggaran Sedang Dibahas

Selama Januari hingga Juni 2021 anggaran operasional Satgas Covid-19 Bangka belum mendapatkan kejelasan. Akibatnya, banyak biaya operasional

Penulis: Riki Pratama | Editor: Fery Laskari
Darwinsyah/BangkaPos
Ilustrasi Uang 

"Sehingga terakumulasi sumber pendapatan kita pada saat belanja pegawai tidak bisa kita turunkan sehingga kita sudah konfirmasi ke DPRD kalau kita menunda beberapa kegiatan di OPD,"jelasnya.

Petugas Bekerja Tak Mengenal Waktu 

Ferry Herlambang (38) Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Babel yang selama ini bertugas menguburkan jenazah pasien Covid-19 di Provinsi Bangka Belitung.

Setahun sudah tugas Ferry dan beberapa rekan lainya melaksanakam tugas mulia menguburkan jenazah pasien Covid-19. 

Ia menceritakan pahit getirnya menjadi petugas pengubur jenazah. Kapanpun waktu ketika mendapatkan informasi pasien meninggal dunia mereka langsung bergerak membantu penguburan.

"Pemakan kita tidak tentu apabila sudah mendapatkan dari pimpinan terkait ada pasien terkonfirmasi Covid-19 yang meninggal dunia. Kami membantu dalam pemakanan tidak mengenal waktu, kadang pagi, malam, dini hari hingga subuh,"kata Fery.

Selain itu untuk wilayah pemakaman yang dilakukan seluruh wilayah di Bangka Belitung di pulau Bangka mereka lakukan.

Ia dan beberapa rekan lainya membantu menjemput dan mengantarkan jenazah dari rumah sakit hingga ke daerah asal jenazah.

"Jadi kesulitan setiap waktu, selesai menguburkan kami harus mandi cairan disinfektan di seluruh tubuh untuk memastikan virus tidak menempel. Karena kami sebagai manusia biasa manusiawi ada rasa takut apalagi saat pertama muncul,"jelasnya.

Fery juga menjelaskan, selama bekerja sebagai Tim TRC dan membantu penanganan Covid-19 mereka mendapatkan gaji  Rp 2,9 juta ditambah uang piket Rp 250 ribu perbulan.

"Tetapi untjk tahun ini kami tidak dapat insentif, padahal tahun kemarin ada dapat Rp 100 ribu setelah melakukan kegiatan. Jadi kami harapkan ada perhatian terhadap beban kerja kami. Karena selain menangani Covid-19 kami juga menangani soal bencana alam, bila ada banjir, angin kencang dan bencana lainya,"katanya.

Dengan gaji dan uang piket yang mereka terima selama ini, dikatanya masih kurang, diharapkan adanya perhatian terkait benan kerja yang dilakukan oleh tim TRC.

"Gaji perbulan Rp2,9 juta perbulan itu gaji pokok, uang piket semula tahun Rp900 ribu, saat ini hanya mendapat Rp250 ribu, jauh berkurang, kemudian uang kegiatan yang awalnya ada Rp100 ribu saat ini tidak ada lagi,"keluhnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved