Breaking News:

Tribunners

Bahaya Toxic Parenting bagi Tumbuh Kembang Anak

Toxic parents juga akan membuat anak lebih sulit mengidentifikasi tanda awal kecemasan yang telah dialaminya

Editor: suhendri
Bahaya Toxic Parenting bagi Tumbuh Kembang Anak
ISTIMEWA
Fetty Familda - Penyuluh Sosial Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak/ASN Kementerian Sosial RI

AKHIR-AKHIR ini istilah toxic parenting atau toxic parents sedang hangat diperbincangkan. Di media sosial seperti facebook dan instagram, bahasan mengenai toxic parenting sempat viral dan dibagikan berkali-kali oleh para pengguna. Hal ini kemudian menjadi tanda tanya terkait apa saja sebenarnya bahaya yang dapat ditimbulkan dari toxic parenting dalam kehidupan seorang anak?

Sebelum mengulas lebih jauh tentang hal tersebut, mari kita mengenal apa yang dimaksud dengan toxic parenting. Toxic parenting merupakan ungkapan yang diambil dari kata toxic parents yang mengandung arti "orang tua yang beracun". Pengertian racun sendiri, mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti zat yang dapat menyebabkan kesakitan dan bisa berujung pada kematian.

Adapun racun dalam konteks ini adalah sesuatu yang ditimbulkan dari orang tua kepada anak yang dilakukan secara terus-menerus baik sadar ataupun tidak sadar, misalnya penilaian atau perlakuan negatif dari orang tua kepada anak.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa toxic parents ialah orang/subjek yang melakukan toxic parenting, sedangkan toxic parenting didefinisikan sebagai pola pengasuhan yang keliru dan tanpa sadar dapat meracuni anak.

Orang tua yang melakukan toxic parenting terhadap anaknya menganggap anak sebagai alat, investasi, dan sebagai hal yang seharusnya dapat menguntungkan orang tua yang telah mengandung dan membesarkan mereka.

Para toxic parents menganggap anak bukan manusia independen yang boleh mengambil keputusan sendiri. Dalam pola pengasuhan ini, orang tua mengatur anak sesuai dengan kemauannya tanpa menghargai perasaan dan pendapat sang anak.

Selain itu, dalam kasus ini orang tua akan selalu menyoroti kesalahan anak. Padahal, dalam proses tumbuh kembang, seorang anak melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Jika anak melakukan kesalahan, orang tua seharusnya fokus pada solusi agar anak bisa memperbaiki kesalahan mereka.

Namun berbeda dengan toxic parenting, orang tua justru selalu menyalahkan dan memarahi anak mereka tanpa memberi tahu apa dan bagaimana solusi yang harus dilakukan.

Dr. Susan Forwad dalam bukunya yang berjudul Toxic Parents: Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life menyebutkan bahwa orang tua yang dikategorikan sebagai orang tua toxic, mempunyai ciri-ciri di antaranya memperlakukan anak mereka seperti orang yang bodoh, terlalu melindungi anaknya sehingga anaknya merasa terkekang, terlalu membebani anaknya dengan rasa bersalah atau dengan kesalahan anak yang diungkit terus-menerus oleh orang tuanya, mengatakan kata-kata yang membuat anak tidak percaya diri dan merasa tidak dicintai serta sebagian orang tua yang toxic terkadang juga memukul anaknya ketika anak membuat kesalahan.

Orang tua yang sehat akan menyadari bila mereka berbuat kesalahan dalam mengasuh anak maka akan berusaha memperbaikinya sehingga hal tersebut tidak terulang lagi. Berbeda dengan orang tua yang melakukan toxic parenting, mereka cenderung sulit berubah dan tidak memiliki awareness dengan pola asuh yang keliru tadi.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved