Breaking News:

Pemprov Bangka Belitung Siap Selamatkan Generasi Muda yang Putus Sekolah dan Menikah Dini

PANGKALPINANG - Anak putus sekolah khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2019

Diskominfo Babel
Gubernur Erzaldi Rosman pimpin Forum Group Discussion bersama Musyawarah Guru Bimbingan Konseling Babel di Ruang Tanjung Pendam, Kantor Gubernur Babel, Kamis (10/06/2021). 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Anak putus sekolah khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2019-2021 terdata sebanyak 2.348 siswa.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman memimpin Forum Group Discussion (FGD) bersama Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Bangka Belitung di Ruang Tanjung Pendam, Kantor Gubernur Babel, Kamis (10/06).

Sangat disayangkan oleh gubernur, bahwa sebanyak 461 siswa putus sekolah ini di antaranya disebabkan oleh pernikahan dini, jumlah yang sangat banyak jika diukur dari 1,4 juta jiwa di Babel. 

Demi memberantas permasalahan tingginya angka putus sekolah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) turut diundang Dinas Pendidikan, dewan pendidikan, MGBK, Dinas Kesehatan, RS jiwa, Dinas Tenaga Kerja/ BLKI, hingga Kanwil Kemenag Babel guna membahas dan memperkuat kebijakan yang disusun.

Beberapa kebijakan sebagai solusi tingginya angka putus sekolah ini sebelumnya telah disusun oleh MGBK dan hari ini ini didiskusikan untuk dimatangkan dengan dipimpin langsung oleh Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman. 

"Tindak pencegahan, pembimbingan, dan pembinaan perlu dilaksanakan agar permasalahan ini segera terputus", ungkapnya yang didampingi sang istri, Melati Erzaldi yang merupakan Ketua TP-PKK Babel.

"TP-PKK juga memiliki program yang dapat menekan angka putus sekolah ini," ungkap Melati Erzaldi pada kesempatan ini. 

Menghadapi permasalahan ini secara langsung di sekolah, Ketua MGBK Babel, Arif menjelaskan ini menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu karena dapat membahas hal ini secara langsung bersama orang nomor satu di Babel dan pihak yang terlibat agar program pada masing-masing instansi dapat mendukung strategi mengentaskan permasalahan putus sekolah. 

"Tingginya angka putus sekolah yang dominan dikarenakan pernikahan dini merupakan fakta. Kami menghadapi sendiri, siswa, orang tua bahkan masyarakat di sekolah ketika terjadinya putus sekolah," ungkapnya. 

Harapan besar setelah FGD ini untuk bisa bersinergi, merancang solusi yang masif dan bersinergi dengan potensi yang ada. 

Halaman
12
Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved