Breaking News:

Daging dan Beras bakal Dikenai Pajak, Emak-emak Hingga Pengusaha Makanan Kompak Protes

Pemerintah berencana memberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap barang kebutuhan pokok seperti beras hingga daging.

Editor: Evan Saputra
(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)
Tumpukan karung beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat, Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (15/8). Stok beras di gudang tersebut dinyatakan aman untuk mencukupi kebutuhan Lebaran. Ketersediaan jumlah yang mencukupi tersebut diharapkan juga memengaruhi kestabilan harga kebutuhan pokok, terutama beras di pasaran untuk beberapa pekan ke depan. 

Daging dan Beras bakal Dikenai Pajak, Emak-emak Hingga Pengusaha Makanan Kompak Protes

BANGKAPOS.COM - Pemerintah berencana memberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap barang kebutuhan pokok seperti beras hingga daging.

Niatan itu mendapat kritikan pedas dari berbagai kalangan. Khususnya para ibu-ibu yang notabenenya mengurus permasalahan kebutuhan dapur keluarga. 

Misalnya saja, Siska Silvia, ibu asal Depok mengatakan, rencana pemberlakukan PPN ini akan sangat memberatkan dirinya dan semua keluarga di Indonesia. 

"Pasti memberatkan semua ibu-ibu atau keluarga lain. Ini yang dikasih pajak adalah barang pokok, barang kebutuhan inti, masa iya beras yang jadi komoditas utama keluarga harus kena pajak," ujar Siska saat ditemui Kompas. com, Kamis (10/6/2021). 

Menurut dia, kalau pun tujuan dari diberlakukannya pajak bisa membantu pertumbuhan ekonomi, adalah hal yang tidak tepat dan malah justru sebaliknya. 

"Kalau memang mau dikenakan pajak yah bagusnya untuk pengusaha yang kelas atas aja, jangan semua masyarakat dipukul rata atau kalau pun mau dikasih pajak yah jangan diberlakukan untuk belanja di pasar tradisional tapi di pasar modern," jelas Siska. 

Hal serupa juga diamini oleh Resinna Simorangkir. Ibu dari 4 anak itu mengaku, apabila pajak sembako ini tetap dikenakan untuk kebutuhan sembako, akan membuat pengeluaran bulanannya lebih besar lagi. 

"Untuk (biaya) kebutuhan dapur pasti lebih mahal lagi dalam sebulannya, walaupun itu hitungannya kecil tapi kan lumayan juga kalau yang mau dibeli (jenisnya) banyak. Kebutuhan kan enggak cuma dapur aja, banyak kebutuhan lagi," kata Resinna. 

Tak hanya dari kalangan ibu rumah tangga, salah satu pelaku usaha makanan juga ikut buka suara.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved