Breaking News:

Horizzon

Kesewenang-wenangan yang Memalukan

Sementara mereka juga masih harus menghadapi risiko kecelakaan kerja, kontak dengan buaya

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto | Editor: suhendri
Kesewenang-wenangan yang Memalukan
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

MALAM mulai larut. Lampu kerlap-kerlip di sejumlah kafe yang berderet di sebuah kawasan di sudut Kota Pangkalpinang ini satu demi satu mulai padam.

Hingar bingar musik dari setiap kafe di kawasan itu juga mulai mati seiring dengan pengunjung yang mulai sepi. Malam terus berjalan larut mendekati pagi, dan saat itu jam memang menunjukkan pukul 03.00.

Saat musik dari dalam kafe mulai mati satu demi satu, alam memiliki irama lainnya. Dari belakang bangunan kafe, irama mesin diesel yang sebelumnya tenggelam oleh musik penggoda syahwat giliran memainkan perannya.

Ketika kita menyelinap ke belakang kafe, deru mesin diesel tersebut makin bergemuruh. Mesin itu adalah mesin milik para penambang timah yang tengah bekerja, mencoba mengikhtiarkan kemurahan Tuhan dengan mencari pasir timah di dasar kolong.

Mereka bekerja malam hari bukan tanpa alasan dan itu bukan semata karena ingin kucing-kucingan dengan aparat keamanan. Pilihan menambang malam tak lain karena air pasang di malam hari dan air pasanglah yang membantu penambang lebih mudah mendulang timah. Kalau soal kucing-kucingan dengan aparat, penambang lebih memilih cara aman.

Dari sisi regulasi, boleh jadi mereka ini menjadi sangat determinan lantaran berstatus sebagai penambang ilegal atau liar. Namun, saat memahami setiap tetes keringat yang keluar dari tubuh mereka, maka segala pungutan termasuk kesewenang-wenangan terhadap mereka yang dilakukan oleh siapa pun sesungguhnya tak lebih dari sebuah kebiadaban yang memalukan.

Betul memang, dari praktik penambangan yang dilakukan oleh para penambang ilegal ini, kita bisa menuduh bahwa kerusakan lingkungan bermuara dari mereka. Kolong menjadi rusak, air baku menjadi keruh, ekosistem terganggu dan segala bentuk kerusakan lingkungan berawal dari mereka. Tetapi benarkah sesimpel itu? Mari kita coba pahami dari dekat apa yang mereka lakukan.

Adalah Steven dan empat kawannya yang malam itu tampak menambang di pinggir kolong. Tak ada lampu selain headlamp yang menempel kepala Steven dan kawan-kawannya yang menerangi pekerjaan mereka.

Dalam gelap, suara mereka juga tenggelam oleh suara mesin berkekuatan sekitar 35 HP yang cukup memekakkan telinga. Entah kalau bekerja siang, yang jelas malam itu Steven dan kawan-kawannya bekerja hanya mengenakan celana dalam.

Padahal angin yang berembus dini hari itu mampu menghantarkan hawa dingin menembus jaket saat kita berdiri termangu di pinggiran kolong. Namun, Steven dan kawan-kawannya tampak tak merasakan dinginnya udara malam itu.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved