Breaking News:

2.000 Senjata Nuklir Dengan Status Siaga Tinggi di Seluruh Dunia, Paling Banyak Punya AS dan Rusia

jumlah hulu ledak dalam dalam persediaan nuklir militer meningkat sekitar 300. Semuanya merupakan senjata nuklir yang dikerahkan di unit ...

Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
BBC World News
Bom termonuklir berjuluk Tsar Bomba milik Uni Soviet disebut sebagai bom nuklir terbesar hingga saat ini 

China terbilang cukup stabil di tengah-tengah modernisasi yang signifikan dan perluasan persediaan senjata nuklirnya. Sementara India dan Pakistan juga tampaknya memperluas persenjataan nuklir mereka, ungkap SIPRI.

Korea Utara yang kerap menjadi sorotan juga diprediksi akan tetap melanjutkan program nuklirnya meskipun desakan denuklirisasi terus datang dari negara-negara barat yang dimotori AS.

Baca juga: Pasca Banjir Besar, Jaring Laba-laba Raksasa Muncul di Pedesaan di Australia

Artis Yuni Shara Ternyata Pakai Lendir Ini Demi Pertahankan Kecantikannya hingga Tampak Awet Muda

Baca juga: Raffi Ahmad Mendadak Sedih saat Mendegar Curahan Hati Rafathar: Kan Papa kerja, Nak

Sembilan negara pemilik senjata nuklir, yakni AS, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara diperkirakan memiliki 13.080 hulu ledak di awal tahun 2021.

Jumlahnya turun dari 13.400 di awal tahun 2020 karena banyak senjata nuklir lama yang telah dibongkar.

Potensi penggunaan senjata nuklir dalam perang meningkat

Peningkatan jumlah senjata nuklir global praktis turut meningkatkan potensi penggunaannya dalam konflik bahkan perang berskala besar di masa depan.

Hal ini juga menjadi salah satu kekhawatiran SIPRI, mengingat beragam bibit konflik mulai terlihat di berbagai belahan dunia. Laut China Selatan, Timur Tengah, hingga Laut Baltik jadi beberapa titik paling rawan saat ini.

"Kami percaya bahwa risiko, probabilitas meningkat. Ketika mereka (negara) memodernisasi kekuatan mereka, mereka juga lebih menekankan pada senjata nuklir dalam strategi militer mereka," ungkap Kristensen.

Di sisi lain, Kristensen bersama SIPRI meyakinkan bahwa situasi keamanan global saat ini tidak setegang era Perang Dingin dahulu meskipun tanda-tanda perlombaan senjata semakin mudah dilihat.

(*/ SerambiNews.com / Kontan.co.id)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved