Breaking News:

Berita Bangka Selatan

Angka Putus Sekolah di Babel Meningkat, Psikolog: Sebagian Anak Ada yang Merasa Minder

Siska Dwi Paramita menyayangkan terjadinya putus sekolah pada anak-anak yang harusnya masih menempuh pendidikan.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: khamelia
DOK BANGKA POS
Siska Dwi Paramita, Psikolog. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Badan Pusat Statistik mencatat Provinsi Bangka Belitung menjadi daerah yang persentase putus sekolah tinggi dari segi jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA) secara nasional.

Dengan persentase sebesar 3,53 persen lebih tinggi dari persentase rata-rata secara nasional yang hanya 1,13 persen, hal ini berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2020.

Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita menyayangkan terjadinya putus sekolah pada anak-anak yang harusnya masih menempuh pendidikan.

"Pemerintah mewajibkan untuk setiap anak bersekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA. Disekolah tentunya bukan hanya pendidikan formal yang akan didapatkan oleh anak-anak. Namun juga ada kemampuan bersosialisasi yang akan terasah, kreatifitas, kemandirian dan lainnya.

Sayangnya, saat ini terlihat angka yang cukup meningkat dari masalah putus sekolah terutama di jenjang SMA," ujar Siska, Kamis (17/6/2021).

Lebih lanjut, Dia mengatakan terjadinya masalah ini tentu banyak faktor yang melatarbelakangi, mulai dari kesulitan ekonomi, kurang adanya dukungan orangua, lebih tertarik dengan bekerja karena bisa menghasilkan uang dan alasan lainnya, serta didukung dengan kondisi saat ini dimasa sulit karena pandemi.

"Kondisi psikologis tiap anak yang putus sekolah tentu juga berbeda, ada yang merasa sedih karena tidak sama dengan teman-teman lainnya, adanya merasa minder atau malu, akan tetapi mungkin saja ada anak yang merasa hal ini adalah hal yang biasa dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Siska.

Dia menyarankan agar angka putus sekolah tidak terus meningkat, perlu ada dukungan baik secara psikologis ataupun materil dari orangtua atau keluarga serta lingkungan.

"Perlu peran banyak pihak, berilah semangat agar dapat menggambarkan masa depan yang cerah," kata Siska. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita).

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved