Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Dapat Dispensasi, Ratusan Perkawinan anak di Bawah Umur Terjadi di Bangka Belitung

Ratusan kasus perkawinan anak di bawah umur terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Penulis: Magang1 | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Kepala Seksi (Kasi) Kepenghuluan dan Bina Sakinah Bidang Bimas Islam, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Babel, Abdul Malik. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Ratusan kasus perkawinan anak di bawah umur terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Setidaknya, selama tahun 2020 sebanyak 226 pasangan dari tujuh kabupaten/kota yang ada di Bangka Belitung memilih menikah muda, lantaran mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama.

Demikian yang diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Kepenghuluan dan Bina Sakinah Bidang Bimas Islam, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Babel, Abdul Malik.

“Undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Dengan demikian, usia kawin perempuan dan laki-laki sama-sama 19 tahun,” kata Abdul Malik di Pangkalpinang, Kamis (17/6/2021).

Menurut Abdul Malik, hal ini tentunya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Di mana pada tahun 2019 terdapat sebanyak 436 kasus, sedangkan pada tahun 2018 sebanyak 298 kasus.

“Apakah karena dikeluarkan Undang-Undang nomor 16 tentang Perkawinan atau karena pandemi Covid-19. Sehingga pernikahan dibawah usia yang sudah digariskan,” kata Abdul Malik.

Ia mengungkapkan, kasus perkawinan anak di bawah umur paling banyak terjadi di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

Pada tahun 2020 saja di  Kabupaten Belitung tercatat sebanyak 90 kasus, sedangkan di Kabupaten Belitung Timur sebanyak 60 kasus pernikahan di bawah umur. 

"Untuk kabupaten/kota lainnya relatif dan sangat rendah,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menyebut, untuk pernikahan anak di bawah usia 15 tahun di Bangka Belitung belum pernah ditemukan.

“Artinya, untuk kasus yang sangat belia di bawah 15 tahun, kita belum mendapatkan informasi. Rata-rata mereka yang tidak mendapatkan dispensasi nikah siri. Ada beberapa daerah terkait nikah siri, namun Kemenag tidak memiliki catatan akan hal itu,” sebut Abdul Malik.

Meskipun demikian, guna menanggulangi pernikahan di bawah umur Kemenag Babel telah mengoptimalisasikan program bimbingan pra dan pasca nikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Bimbingan tersebut terkait kebutuhan berkeluarga, menyelesaikan konflik keluarga, advokasi hingga konseling.

“Karena di pasca nikah sendiri itu yang selama ini belum tersentuh untuk memberikan pendampingan,” kata Abdul Malik. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved