Breaking News:

Tribunners

Menekan Angka Putus Sekolah di Masa Pandemi

Salah satu cara menekan angka anak putus sekolah yaitu dengan memasifkan wajib belajar 12 tahun

Editor: suhendri
Menekan Angka Putus Sekolah di Masa Pandemi
ISTIMEWA
Kartika Sari, M.Pd.I - Guru SMA Muhammadiyah Pangkalpinang

PENDIDIKAN memiliki peran penting dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan demikian, pendidikan merupakan penunjang keberhasilan pembangunan suatu daerah baik dari pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Salah satu upaya dalam meningkatkan peradaban negeri ini harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu yaitu peningkatan mutu pendidikan itu sendiri. Melalui pendidikanlah keadilan dan kesetaraan bisa semakin terwujud.

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Untuk itu, perlu adanya tanggung jawab bersama (orang tua, masyarakat, pemerintah) agar hal tersebut dapat terwujud nyata di mana anak dapat mengenyam pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi sesuai tuntutan perkembangan zaman.

Salah satu persoalan yang mendasar pada dunia pendidikan kita adalah persoalan anak putus sekolah. Anak putus sekolah adalah proses pemberhentian siswa secara terpaksa dari suatu pendidikan tempat anak belajar. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor sehingga anak tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai.

Berdasarkan survei nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2009, angka anak putus sekolah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup tinggi. Demikian pula di tahun 2010-2011, sedikitnya 400 pelajar dari jenjang SD, SMP, dan SMA yang putus sekolah.

Kendati pada tahun 2012 sampai tahun 2014 angka anak putus sekolah mengalami penurunan, namun pada tahun 2015 angka putus sekolah khususnya pada jenjang SMA/sederajat mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Dampak pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun 2020 memperparah laju pertumbuhan anak putus sekolah. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat 157 ribu siswa di Indonesia yang putus sekolah dengan kategori cukup tinggi dengan jenjang SD sebanyak 59,44, SMP berjumlah 38,467, SMA ada 26,864, dan jenjang SMK berjumlah 32,395.

Untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri jumlah penduduk usia sekolah (7-12 tahun) pada tahun 2019/2020 sebanyak 151.993 siswa dan angka putus sekolah sebanyak 405 siswa. Usia 13-15 tahun 2019/2020 sebanyak 49.951 siswa, dengan angka putus sekolah sebanyak 152 siswa. Adapun usia 16-18 tahun 2019/2020 sebanyak 54.726 siswa dengan angka putus sekolah 135 orang siswa.

Bila dikalkulasikan dari tahun 2019 sampai 2021, anak yang putus sekolah didominasi oleh sekolah menengah. Data yang terhimpun dari tahun 2019-2021 jumlah penduduk usia 16-18 tahun sebanyak 74.100 siswa, yang bersekolah di sekolah menengah menurut data dari Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 64.344 dengan persentase 86,3 persen orang siswa dan jumlah anak yang putus sekolah 2.348 orang siswa dan penduduk yang tidak bersekolah sebanyak 7.418 orang.

Sektor yang paling berdampak di masa pandemi Covid-19 ini adalah sektor ekonomi. Kondisi perekonomian merupakan penyebab paling utama anak putus sekolah. Kenyataan ini ditunjukkan dengan tingginya tingkat pengangguran akibat banyaknya kepala keluarga yang dirumahkan atau di-PHK (pemutusan hubungan kerja), serta menurunnya pendapatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan usaha kecil menengah (UKM).

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved