Breaking News:

Horizzon

Kesaksian Erik, 23 Hari Melihat Tipisnya Batas Antara Hidup dan Mati di Ruang Isolasi

Selama 23 hari di ruang isolasi, Erik setiap hari melihat ada pasien yang meninggal dunia.

Penulis: ibnu Taufik juwariyanto | Editor: suhendri
Kesaksian Erik, 23 Hari Melihat Tipisnya Batas Antara Hidup dan Mati di Ruang Isolasi
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

ERIK bukan warga Pangkalpinang, Erik bahkan tidak tinggal di Provinsi Bangka Belitung. Erik tinggal di satu kota besar di ujung timur Pulau Jawa.

Meski bukan kisah inspiratif yang mendayu-dayu, namun kesaksian Erik ini tampaknya pantas untuk dibawa ke Bangka Belitung. Kisah Erik cukup untuk membuat kita sedikit lebih paham atas situasi yang tengah kita hadapi bersama.

Erik adalah laki-laki berusia sekitar 45 tahun dan ia merupakan karyawan di sebuah perusahaan swasta ternama di kotanya. Pernah dipecat di perusahaan sebelumnya, mengajarkan Erik menjadi karyawan yang memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi terhadap tempat kerjanya sekarang.

Di tempat kerjanya saat ini, Erik ingin menebus kesalahan yang ia lakukan sebelumnya. Itu semua dilakukan semata-mata untuk istri dan utamanya dua putri dan putranya yang sudah mulai menginjak dewasa.

Erik juga sadar betul, meski saat ini mulai banyak job sampingan di luar pekerjaan utamanya, namun itu semua tak lepas dari atribusi (nama perusahaan) yang selalu menempel di belakang namanya.

Nama perusahaan tempat bekerja yang selalu lekat dengan namanya inilah yang menjadi garansi atas profesionalitas Erik. Apalagi, perusahaan tempatnya bekerja adalah momentum yang membuatnya bangkit dari keterpurukan, usai ia dipecat di tempat kerja sebelumnya.

Erik sangat menikmati pekerjaanya. Erik bahkan jarang mengambil cuti jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

Kecintaannya terhadap pekerjaan sekaligus tempat kerjanya bahkan bisa dibilang berlebihan. Ia sering memaksakan diri tetap masuk kantor saat kondisi badannya kurang fit.

Seperti sekitar awal tahun 2021 lalu, saat ia merasa demam berkepanjangan disertai nyeri di seluruh persendiannya. Erik berpikir, ia terkena virus corona.
Namun sejumlah alasan membuatnya memilih untuk tidak memeriksakan diri. Ia berpikir masih sanggup bekerja dengan kondisinya saat itu.

Ia tahu, kantornya sangat ketat dalam menjalankan protokol kesehatan. Setiap masuk kantor, seluruh karyawan harus melewati thermoscan untuk memantau suhu tubuh. Karyawan yang suhunya di atas 37,3 derajat Celsius dilarang masuk kantor dan harus segera ke klinik.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved