Breaking News:

Tribunners

Akankah Memetik Buah Bonus Demografi?

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 masih cukup tinggi yaitu 6,26 persen

Editor: suhendri
Akankah Memetik Buah Bonus Demografi?
ISTIMEWA
Jamik Safitri, S.S.T. - Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

INDONESIA sejak tahun 2015 berpeluang mendapatkan bonus demografi. Bonus demografi terjadi apabila jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Perubahan struktur penduduk ini membuat rasio ketergantungan makin rendah. Proyeksi penduduk Indonesia tahun 2015-2045 menyebutkan bahwa puncak bonus demografi Indonesia terjadi pada tahun 2021-2022 dan berakhir sekitar tahun 2030-2040.

Hasil sensus penduduk 2020 menunjukkan bahwa Indonesia sedang didominasi oleh penduduk usia produktif. Indonesia memiliki penduduk usia produktif sebesar 70,72 persen dari total penduduk, artinya 100 orang hanya menanggung 30 orang. Rasio ketergantungan yang rendah membuat Indonesia masih dalam masa bonus demografi bahkan akan mencapai puncaknya dalam dua tahun terakhir.

Bonus demografi merupakan potensi besar bagi suatu negara untuk melompat menjadi negara kaya karena kecilnya beban yang ditanggung. Peristiwa bonus demografi hanya terjadi sekali dalam sejarah suatu bangsa.

Namun, hal ini akan terjadi jika memiliki sumber daya yang berkualitas, penduduk usia kerja harus dalam kondisi yang sehat, cerdas, dan produktif. Sayangnya Indonesia mengalami puncak bonus demografi di tengah pandemi membuat impian memetik bonus demografi makin sulit.

Kondisi perekonomian yang terpukul karena pandemi Covid-19 berakibat langsung pada angkatan kerja di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2021 pengangguran karena Covid-19 mencapai 1,62 juta orang, sementara tidak bekerja karena Covid-19 mencapai 1,11 juta orang, dan yang akhirnya bukan angkatan kerja karena Covid-19 ada 0,65 juta orang.

Angka-angka ini menurun jika dibandingkan bulan Agustus 2021 sejalan dengan membaiknya perekonomian Indonesia. Namun, penurunannya belum sebanding dengan bonus demografi yang akan dihadapi.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 masih cukup tinggi yaitu 6,26 persen, sedangkan pada Februari 2020 saat pandemi belum menyerang Indonesia, TPT hanya 4,94 persen. Ironisnya pengangguran di Indonesia didominasi oleh penduduk kelompok usia muda (15-24 tahun) dan jika dilihat dari sisi pendidikan didominasi oleh pengangguran dengan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Padahal, lulusan SMK diharapkan mampu dan siap untuk memasuki dunia kerja setelah mengenyam pendidikan.

Pengangguran dengan lulusan perguruan tinggi juga masih tak kalah mendominasi, pengangguran dengan lulusan Diploma I/II/III mencapai 6,61 persen dan lulusan universitas 6,97 persen. Banyaknya pengangguran dengan pendidikan tinggi menunjukkan bahwa masih minimnya lapangan kerja di Indonesia yang dianggap memadai.

Tidak hanya lapangan kerja yang kurang memadai, daya saing pekerja Indonesia juga masih sangat jauh dibanding negara-negara lain. Berdasarkan Global Competitiveness Index 2018, daya saing pekerja Indonesia berada pada peringkat ke-45, jauh di bawah Singapura (peringkat 2), Malaysia (25), dan Thailand (38).

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved