Breaking News:

Tribunners

Tenaga Medis "Lapis Kedua" Tak Boleh Tertinggal

Bidan berhak mendapatkan perlindungan yang layak, APD yang memadai, dan akses ke tes, perawatan, dan vaksin Covid-19 yang lebih utama.

Editor: suhendri
Tenaga Medis
ISTIMEWA
Royhan Faradis S.S.T. - Fungsional Statistisi Muda BPS Babel

LEDAKAN angka kelahiran atau baby boom di Indonesia merupakan salah satu dampak yang dikhawatirkan dari pandemi Covid-19. Mulai dari akademisi di bidang demografi hingga pakar kesehatan ibu dan anak telah mewanti-wanti fenomena ini di awal pandemi melanda. Pasalnya, penggunaan KB menurun saat pandemi Covid-19 kian meluas. Hal ini terjadi karena para akseptor KB takut untuk mengakses layanan KB di tengah wabah.

Pandemi Covid-19 juga berakibat pada penurunan aktivitas dalam beberapa kelompok kegiatan program KB serta penurunan mekanisme operasional di lapangan. Pelayanan KB merupakan kegiatan yang syarat akan kontak secara penuh atau people to people contact. Dengan demikian, ketika ada physical distancing atau social distancing tentu saja menyulitkan dalam pemberian layanan yang maksimal.

Media acap kali terfokus kepada tenaga kesehatan yang berjuang di garda terdepan dalam bertarung melawan virus Covid-19. Padahal, tenaga medis di lapisan kedua seperti halnya bidan, tenaga pelayanan KB, penyuluhan imunisasi balita harus mendapatkan perhatian yang setara. Segala yang berkaitan dengan hubungan antara ibu dan anak di masa pandemi harus menjadi perhatian bersama karena akan selalu ada kehidupan di pasca-pandemi yang harus tetap dijaga kualitasnya.

Sempat berdiskusi dengan salah satu rekan yang bekerja sebagai bidan di sebuah puskesmas di Kota Pangkalpinang. Bidan seperti mereka mau tidak mau tetap menjalankan pelayanan imunisasi untuk bayi dan merawat ibu hamil. Tetapi, Covid-19 mengubah perawatan yang dapat mereka tawarkan.

Ketika awal pandemi pada Maret 2020, bidan merasa ketakutan. Banyak petugas dan penyuluh berhenti bekerja karena mereka tinggal di rumah tidak kemana-mana untuk beberapa hari. Itu berarti kekurangan tenaga medis di pos pelayanan. Pergeseran yang biasanya delapan atau 24 jam malah berlangsung seminggu penuh untuk menutupi staf yang hilang dan mengurangi potensi paparan Covid-19.

Karena jumlah tenaga medis yang rendah, pembatasan sosial, maka layanan penting untuk wanita dan bayi terpaksa dibatalkan. Klinik imunisasi tutup. Kelas prenatal dihentikan. Mereka bahkan harus mengarahkan beberapa wanita untuk melahirkan di tempat lain.

Tidak seperti tenaga kesehatan garis depan lainnya, bidan tidak diprioritaskan untuk menerima alat pelindung diri di awal pandemi menjamur. Mereka sempat mengalami kecemasan yang signifikan karena tidak dapat melindungi diri mereka sendiri dan tidak memiliki pedoman untuk merawat ibu hamil yang terpapar Covid-19 dengan benar.

Banyak wanita melewatkan pelayanan tatap muka dalam program keluarga berencana dan pengecekan kehamilan. Imunisasi untuk bayi baru lahir turun setengahnya. Menurut tenaga medis di lapis kedua, setidaknya ada beberapa hal yang suara hati mereka untuk dicurahkan kepada para pembuat kebijakan, yakni:

Pertama, pembuat kebijakan dan masyarakat harus memperlakukan bidan, petugas KB layaknya petugas kesehatan garis depan yang sama pentingnya. Beberapa orang percaya petugas tenaga medis seperti bidan hanya bekerja di komunitas kecil dan tidak melayani banyak orang. Padahal seharusnya kehadiran bidan dan penyuluh merupakan memberikan pendidikan pertama tentang ancaman kesehatan masyarakat melawan Covid-19.

Berbagai studi salah satunya yang berjudul Man-Midwifery Dissected karya Fores S. (2020) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen bidan adalah perempuan. Karena seksisme dan norma gender, bidan dan peran mereka dalam merawat wanita dan bayi baru lahir diremehkan. Perawat dan petugas kesehatan masyarakat menghadapi hambatan gender yang serupa.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved