Breaking News:

Kejari Bangka Barat Terus Bergerak Mencerdaskan Generasi Penerus Bangka Barat

Kejaksaan Negeri Bangka Barat terus bergerak dan berkarya mencerdaskan generasi-generasi penerus Bangka Barat.

Editor: El Tjandring
Ist (Kejari Bangka Barat)
Kejaksaan Negeri Bangka Barat bertindak selaku Narasumber pada Class meeting kelas menulis yang di adakan di SD Santa Maria, Muntok, BBangka Barat, Rabu (23/06/2021). 

BANGKAPOS.COM - Kejaksaan Negeri Bangka Barat terus bergerak dan berkarya mencerdaskan generasi-generasi penerus Bangka Barat dengan menjadi narasumber dalam kegiatan Class Meeting Kelas Menulis di Sekolah Dasar Santai Maria, Muntok, kabupaten Bangka Barat, Rabu (23/06/2021).

Kegiatan Class Meeting Kelas Menulis ini masih merupakan program Jaksa Masuk Sekolah, Jaksa Peduli Anak, dan Jaksa Peduli Literasi.

Dengan mengangkat tema “Kiat Menjadi Penulis Cilik”, kegiatan ini diikuti oleh murid-murid kelas 4, kelas 5 dan kelas 6.

Bertindak selaku narasumber pada kegiatan ini adalah para Jaksa Fungsional di Kejari Bangka Barat, Rina Akhad Riyanti, SH dan Ferry Marleana Kurniawan, SH., MH yang mewakili Kajari Bangka Barat, Helena Octavianne.

Jaksa fungsional Kejari Bangka Barat, Ferry Marleana Kurniawan saat mengisi materi pada Class meeting kelas menulis di SD Santa Maria, Mentok, Bangka Barat
Jaksa fungsional Kejari Bangka Barat, Ferry Marleana Kurniawan saat mengisi materi pada Class meeting kelas menulis di SD Santa Maria, Mentok, Bangka Barat (Ist (Kejari Bangka Barat))

Dalam kegiatan ini, para murid diberikan beberapa kiat atau tips dalam menulis oleh kedua Jaksa Fungsional pada Kejari Bangka Barat tersebut.

Menurut Ferry Marleana Kurniawan, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis adalah bagaimana melahirkan pikiran maupun gagasan dengan tulisan, ataupun menulis merupakan hasil dengan melahirkan pikiran dalam perasaan ke dalam tulisan.

Dalam menulis pun perlu diketahui bahwa salah satu aturan hukumnya yaitu tidak boleh melakukan plagiat, karena menulis sesuatu yang menghasilkan sebuah karya tidaklah sembarangan, dan seorang penulis dalam menciptakan karya tulisannya tidak boleh meniru atau menyalin hasil karya orang lain.

"Bila penulis melakukan tindakan plagiat, penulis bisa dikenakan sanksi pidana berupa penjara dan denda sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta," ujarnya.

Rina Akhad Riyanti selaku Jaksa fungsional Kejari Bangka Barat saat menyapa para murid dalam program Class meeting kelas menulis di SD Santa Maria, Mentok, Bangka Barat
Rina Akhad Riyanti selaku Jaksa fungsional Kejari Bangka Barat saat menyapa para murid dalam program Class meeting kelas menulis di SD Santa Maria, Mentok, Bangka Barat (Ist (Kejari Bangka Barat))

Sementara itu Rina Akhad Riyanti mengatakan, dalam menulis sebenarnya diperbolehkan untuk mengutip atau menggunakan ide penulis lain. Namun ada syaratnya agar karya tulis terhindar dari plagiarisme.

"Untuk mengutip bisa dalam bentuk kutipan langsung, yaitu kutipan yang ditulis sama persis dengan sumber aslinya, baik ejaan maupun bahasanya, disertai dengan penyebutan atau pencantuman sumber karya yang dikutip berupa nama penulis, judul tulisan, dan nama penerbit jika ada," katanya.

Rina menambahkan, mengambil ide dari tulisan penulis lain dan ditulis ulang dengan kata-kata sendiri, ini disebut kutipan tidak langsung (paraphrasing) tetapi sumbernya harus tetap disebutkan. Karya yang dikutip pun harus ditulis dalam tanda petik "...“. Sumbernya dapat disebutkan dalam teks, pada catatan kaki, atau di akhir karya tulis berupa daftar pustaka.

Kajari Bangka Barat, Helena Octavianne dalam konfirmasinya atas kegiatan Class Meeting kelas menulis yang dilakukan oleh pihaknya menjelaskan, di era digital sekarang ini penulis dapat menuangkan gagasan dan pikirannya dalam bentuk tulisan dan menyebarkannya di media sosial.

"Salah satunya melalui aplikasi media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram yang saat ini paling banyak digunakan. Tapi ingat, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi penulis dalam menggunakan media sosial. Bermedia sosial, penulis tidak boleh membagikan hasil karya tulisan yang mengandung unsur SARA, fitnah, berita bohong/Hoax dan asusila," pungkasnya.

Apabila karya tulis tersebut mengandung unsur yang dilarang maka akan dikenakan sanksi sebagaimana Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Oleh karena itu, Helena berharap masyarakat agar dapat lebih baik dan bijak dalam bermedia sosial. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved