Breaking News:

Muntok Dijuluki Kota Tua dan Kota Seribu Kue, Bangka Barat Juga Kaya Wisata Budaya

Kabupaten Bangka Barat terus berupaya tampil beda dari kabupaten lainnya di Kepulauan Bangka Belitung dalam pengembangan potensi wisata di wilayahnya.

Penulis: Magang6 | Editor: El Tjandring
tangkapan layar/bangkapos.com
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Bambang Haryo Suseno dan Kepala Bidang Disparbud Kabupaten Babar, Romiat dalam dilaog mengoptimalkan Pengembangan Pariwisata di Bangka Barat, Talkshow Sumatera Travel Destination Summit. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kabupaten Bangka Barat terus berupaya tampil beda dari kabupaten lainnya di Kepulauan Bangka Belitung dalam pengembangan potensi wisata di wilayahnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Bambang Haryo Suseno yang sering disapa Seno mengungkapkan Bangka Barat mempunyai banyak warisan budaya.

“Pulau bangka ini punya potensi wisata bahari yang sudah cukup terkenal, tetapi kami di Bangka Barat tidak memprioritaskan wisata bahari karena Kabupaten lainnya sudah melakukannya,” tutur Seno dalam Talkshow Sumatera Travel Destination Summit di Ruang Tengah Redaksi Bangka Pos, Selasa (29/6/2021) kemarin.

“Kita banyak warisan budaya yang selalu jadi tradisi masyarakat Bangka Barat, apalagi icon wisata yang terkenal yaitu Pesanggrahan Menumbing (peninggalan Belanda) tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta,” kata Seno menjelaskan.

Ia mengatakan, pusat Kabupaten Babar terletak di Kota Muntok, ada berbagai klaster peninggalan sejarah yang mereka miliki.

Salah satu di antaranya ialah klaster Eropa (Museum Timah Indonesia Muntok dan Rumah Residen yang menjadi Rumah Dinas Bupati), klaster China (Bangunan Klenteng dengan Masjid yang berbatas 2 meter), dan klaster Melayu (Rumah Panggung).

Pada saat kondisi normal sebelum covid, tercatat 48 acara tradisi dan ritus setiap tahunnya. Sedangkan di situasi pandemi ini, berkurangnya penyelenggaran dan banyak event yang tidak terealisasi.

Sebagai contoh, di Kecamatan Tempilang setiap 1 minggu sebelum menjelang bulan puasa, masyarakat di sana mengadakan Tradisi Perang Ketupat (tolak bala).

Tradisi Perang Ketupat ini biasanya bisa mendatangkan pengunjung 7.000 hingga 10.000 wisatawan.

Lalu ada Tradisi Festival Malam 7 Likur dilaksanakan di Desa Mancung, Kecamatan Kelapa pada bulan Ramadhan mulai tanggal 21 atau 10 akhir Ramadhan hingga menjelang malam takbiran Hari Raya Idul Fitri.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved