Breaking News:

Bangka Pos Hari Ini

Sarjana Sebagai Agen Moderasi Beragama dalam Membangun Indonesia

ISTILAH mo­derasi atau wasathiyyah diartikan se­bagai pengurangan kekerasan dan penghindaran ekstremisme dan radikalisme.

Penulis: tidakada003 | Editor: fitriadi
Istimewa
Dr. Irawan, M.S.I - Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung 

Untuk terhindar dari sikap-sikap seperti ini, maka setiap Muslim perlu mewujudkan sikap moderasi beragama.

Moderasi beragama dapat terwujud dengan syarat: Pertama, untuk berada di tengah-tengah, seseorang harus memiliki pengetahuan atas semua pihak; Kedua, untuk menjadi moderat, seseorang harus mampu me­ngendalikan emosi agar tidak melewati batas; Ketiga, harus selalu berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan berperilaku (M. Quraish Shihab).

Selain itu, moderasi beragama perlu diterapkan karena: Pertama, salah satu esensi hadirnya agama adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan, termasuk memelihara jiwa manusia.

Kedua, seiring berjalan waktu, makin ba­nyak agama, suku, bangsa, dan warna kulit di berbagai wilayah dan negeri. Seiring perkembangan dan persebaran umat manusia, agama pun turut tersebar.

Tentunya, teks-teks agama juga dipahami secara multitafsir sehingga sering kali terjadi konflik atas nama agama. Dalam konteks ini, diperlukan moderasi beragama. Ketiga, dalam konteks Indonesia, moderasi beragama sangat diperlukan sebagai upaya dan strategi kebudayaan untuk merawat keindonesiaan.

Indonesia, seperti dikatakan Babun Suharto, dkk. menjadi salah satu simbol moderasi beragama untuk dunia.

Moderasi beragama dalam konteks Indonesia dimaknai sebagai cara pandang, sikap, dan praktik keberagamaan dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melin­dungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Apabila ditinjau dari tujuannya, moderasi beragama memiliki orientasi untuk menciptakan kedamaian dan usaha menepis aspek yang rawan konflik.

Sikap moderasi dalam praktik keagamaan bisa menjadikan umat Muslim terhindar dari sikap ekstrem yang berlebihan, fanatik dan dan sikap revolusioner dalam beragama, dan solusi terhadap kutub ultrakonservatif (ekstrem kanan dan ekstrem kiri atau liberal).

Pada saat ini atribut-atribut keindonesiaan sudah makin lengkap, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, Bendera Merah Putih, pemerintahan dan kekuasaan nasional, dan bahasa Indonesia.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved