Selain Lampor, Inilah Mitos Pulung si Bola Api yang Dipercaya sebagai Pembawa Petaka

Selain lampor, tahukah Anda, ada mitos serupa lainnya, yakni pulung. Bola api si pembawa petaka

Editor: Dedy Qurniawan
Kompasiana/Trie Yas
Ilustrasi Pulung atau bola api 

BANGKAPOS.COM - Lampor kini jadi istilah paling banyak diburu netizen.

Semua berawal saat lampor viral di TikTok.

Lampor hingga Selasa (12/7/2021) pukul 20.00 WIB ini, menjadi isitlah tertinggi yang paling banyak dicari orang di google.

Baca juga: Apa Itu Lampor dan Bagaimana Wujud Aslinya? Mitos Keranda Terbang Pembawa Pasukan Nyi Blorong

Mitos yang dikenal sejumlah masyarakat di Jawa itu dipercaya sebagai pertanda marabahaya.

Selain lampor, tahukah Anda, ada mitos serupa lainnya, yakni Pulung.

Melansir artikel bangkapos.com yang pernah terbit pada 14 Februari 2017 silam, pulung adalah semacam bola api.

Mata kita melihatnya sebagai bola api, sementara orang di Gunung Kidul sana menyebutnya pulung.

Kehadirannya selalu mengundang rasa ngeri.

Pasalnya, ia dipercaya sebagai pembawa sasmita gaib.

Ada saja musibah yang terjadi jika ia muncul.

Bola api itu dianggap sebagai pembawa petaka.

Tetapi, kengerian dan tanda tanya juga melanda negara maju seperti Amerika dan Eropa, meskipun keberadaannya tetap mengundang kontroversi.

Ada kisah seputar ini.

Tentu saja tidak bisa diverifikasi kebenarannya.

Alkisah, ada warga bernama Tukirah yang tidak kunjung sembuh dari sakitnya, meminta ibunya membelikan sawo.

Maka, Mbok Tumikern, janda berumur 60 tahun itu pun pergilah ke pasar.

Ketika ia kembali, Tukirah sudah tewas tergantung di kusen ruang tamu rumah mereka.Wanita itu menjerat lehernya sendiri dengan kain.

Peristiwa itu terjadi 9 September 1989 di Dusun Siraman II, kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

Menurut para tetangga, rumah Mbok Tumikem ketiban (kejatuhan) pulung gantung, yaitu roh jahat yang berwujud bola cahaya sebesar kepalan, berekor, dan berwarna hijau kemerahan. Kata mereka, pulung gantung inilah yang mendorong Tukirah bunuh diri.

Pulung, sebuah pertanda Tukirah tewas menghadap ke utara.

Beberapa bulan kemudian, di rumah tempat Tukirah menggantung diri, tetapi lebih ke utara, Solinah ditemukan tewas gantung diri dengan setagen.

Solinah ini anak Mbok Tumikem juga.

Kata orang, gara-gara pulung gantung datang untuk kedua kalinya ke rumah janda malang itu, Mbok Tumikem disarankan membongkar rumahnya.

Tapi kalau dibongkar, ke mana ia dan sisa keluarganya mesti tinggal? Mau dijual, siapa yang mau membeli rumah tempat dua orang pernah gantung diri?

Untuk mencegah pulung gantung menyatroni lagi rumahnya, setiap malam Mbok Tumikem tidur di depan pintu rumahnya. Rupanya, pulung gantung lantas memilih korban lain.

Empat bulan kemudian, di sebuah dusun sebelah tenggara kediaman Mbok Tumikem, Noto Triman didapati tewas gantung diri.

Lalu pada hari Rabu Kliwon 9 Oktober 1991, Ngadimin alias Surip, warga Dusun Ngandong, Kecamatan Patuk di Kabupaten Gunung Kidul pula, mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Dengan tewasnya Surip, berarti di Kabupaten Gunung Kidul, selama kurun waktu 10 tahun terjadi 17 kasus bunuh diri.

Walaupun penduduk menuding pulung gantung, sesepuh Desa Siraman, Hadi Sumarto yang tahun 1991 itu berumur 74 tahun berpendapat, pulung bukanlah pendorong seseorang untuk bunuh diri, melainkan sekadar sasmita gaib atau petanda sesuatu akan terjadi. Mantan anggota DPRD itu mengganggap pulung itu semacam Komet Halley.

Komet Halley yang berekor kembali ke pusat tata surya setiap 76 tahun. Terakhir kita melihatnya tahun 1986.

Entah kenapa, pemunculannya sering dihubungkan dengan kedatangan petaka.

Komet adalah bongkahan es atau batu yang tersisa dari kelahiran tata surya. Komet mengorbit matahari. Kalau mendekati matahari ia mengeluarkan uap dan membentuk ekor dari debu dan gas.

Apakah benda ruang angkasa ini bisa dituding sebagai pulung gantung?

Ataukah ada cahaya ajaib jenis lain.

Belum ada yang memverifikasinya secara terang benderang.

Baca juga: Sekampung Menderita Sakit dan Kematian, Warga Daerah Ini Percaya Mitos Keranda Terbang atau Lampor

Pulung di Dunia Barat

Kontroversi tentang bola cahaya sudah muncul sejak abad ke-19. Tahun 1890 sejumlah bola bercahaya muncul dalam tornado, angin ribut yang - berputar dengan kekuatan besar.

Bola cahaya itu lantas menjadi pokok pembahasan Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis yang termasyhur dan bergengsi itu.

Bola api itu kalau bukan takhayul, tapi apa dong?

Menurut laporan, ada bola cahaya yang masuk ke rumah lewat cerobong asap dan keluar dengan membuat lubang-lubang bulat di jendela. Perdebatan sengit pun berlangsung. Ada anggota Akademi yang menyatakan bahwa orang-orang yang melihat bola api itu mestinya menderita ilusi. Sebagian besar menyimpulkan, hasil pengamatan petani-petani yang tidak berpendidikan tidak bernilai.

Lalu mantan Kaisar Brazil, Dom Pedro II d'Alcantara yang merupakan anggota Akademi itu buka suara. la melihat sendiri bola api itu. Pernyataannya membuat sidang terdiam. Walaupun demikian,sampai sekarang laporan tentang bola api masih sering dicurigai sebagai takhayul.

Seorang ahli kimia Rusia, M.T. Dmitriev, membuat laporan rinci mengenai pengalamannya tahun 1967. Ketika itu ia sedang berkemah di tepi Sungai Onega di Rusia Barat. Tiba-tiba kilat menyambar. Lalu muncullah sebuah bola api yang mengambang kira-kira 30 cm di atas permukaan air. Bentuknya bukan bundar tapi agak lonjong. Benda itu gemeretak dan berdesir ketika terbang di atas kepalanya lalu pindah ke tepi sungai. Benda itu mengambang diam di udara selama kira-kira 30 detik.

Ketika melewati gerombolan pepohonan ia meninggalkan asap kebiru-biruan yang baunya sangit. Benda itu kemudian melompat-lompat seperti bola biliar dari satu pohon ke pohon lain sambil menyemburkan bunga api. Semenit kemudian ia hilang.

Dari laporannya ini dan laporan-laporan lain, diketahui bahwa bola cahaya biasanya tidak bundar benar, tetapi lonjong atau bentuknya seperti buah jambu klutuk. Tepi-tepinya tidak bergaris tegas, tetapi agak kabur. Ada yang ukurannya sekelereng, ada yang garis tengahnya kira-kira semeter.

Cahayanya secemerlang bola lampu pijar. Warnanya macam-macam, tetapi sering merah, jingga, atau kuning.

Ada yang tampak cuma sedetik, ada yang sampai semenit.

Baca juga: Begini Kondisi Terkini Desa yang Ada Lampor atau Keranda Terbang Disebut ada Marabahaya dan Kematian

Bola api itu ada yang menghilang tanpa bunyi, ada yang disertai ledakan.

Dianggap ilusi optik

Pernah ada bola api yang menyebabkan kerusakan materi seperti yang dilaporkan oleh koresponden Daily Mail pada 1936. Katanya, saat terjadi angin topan, ia melihat bola merah yang sepertinya panas. Ukurannya sebesar jeruk. Bola itu datang dari angkasa, menghajar rumah, memutuskan kabel telepon, membakar kusen jendela, dan mencebur ke sebuah wadah air di bawah jendela. Air itu bergolak-golak beberapa menit. Ketika sudah cukup dingin untuk diperiksa, ternyata di dalamnya tidak ditemukan apa-apa.

Pernah pula ada laporan sebuah bola cahaya berwarna merah bergaris tengah kira-kira 60 cm menggelinding membentuk parit sepanjang 91 m dan sedalam 1 m di tanah lembek dekat sebuah sungai kecil, lalu membentuk parit lagi sepanjang 23 m di dasar sungai itu.

Untuk bisa melakukannya diperlukan tenaga yang kuat. Namun tidak didapati pengaruh nuklir. Walaupun survai terhadap 4.000 karyawan NASA menunjukkan bahwa bola cahaya tidak asing bagi mereka, banyak ilmuwan tetap masih menyangkal keberadaannya.

Menurut ilmuwan Kanada, Edward Argyll, bola cahaya cuma ilusi optik. Katanya, kalau petir menyambar tanah, terciptalah cahaya cemerlang. Orang-orang yang melihat cahaya benderang itu matanya masih seakan-akan melihatnya selama 2-10 detik kemudian (after image) dan menganggap benda yang tidak ada itu sebagai bola cahaya. Katanya, hal ini cocok dengan laporan yang menyatakan bahwa bola cahaya tampak antara 2-10 detik.

Walaupun after image tidak bisa disangkal, bagaimana dengan bola cahaya yang meninggalkan bekas-bekas fisik keberadaannya? Argyll menolak bukti-bukti itu dengan berkata, "Kalau bola cahaya cuma ilusi optik, laporan-laporan ini tidak layak dikategorikan bisa dipercaya."

Ada orang-orang yang mempertanyakan: kalau bola itu merupakan hasil pembakaran gas yang keluar dari tanah akibat sambaran petir, mana mungkin bisa mencapai ketinggian sebuah pesawat? Mana mungkin ia bisa menembus tembok seperti banyak dilaporkan?(*)

(bangkapos.com)

Sumber: bangkapos.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved