Horizzon

Potret Pedagang Kecil Menjerit (:PPKM)

Semua harta Hengky bahkan masa depannya sudah diletakkan di warung kopi yang beroperasi sejak sebulan lalu

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

SEBUT saja namanya Hengky. Dia adalah pemilik satu dari sekian banyak warung kopi di Kota Pangkalpinang. Sebelumnya, Hengky adalah karyawan swasta yang merantau di Jakarta.

Hengky adalah satu dari sekian banyak pekerja yang harus mengalami nasib kurang beruntung di masa pandemi ini. Ia menjadi satu dari sekian banyak pekerja yang harus kehilangan pekerjaan.

Ia dan hampir seluruh karyawan di tempat kerjanya dirumahkan setelah perusahaan tempat bekerjanya berstatus 'hidup segan mati tak mau.' Hasilnya, status Hengky dalam ketidakjelasan. Dia memang tidak di-PHK.

Namun Hengky juga tak yakin akan kembali dipekerjakan. Ia tahu, perusahaan tempatnya bekerja juga sulit untuk bangkit kembali.

Setali tiga uang, istrinya juga bernasib serupa. Pasangan muda ini dalam waktu singkat berstatus sebagai pengangguran. Istrinya sedikit lebih beruntung karena memperoleh pesangon meski jumlahnya tak sesuai dengan UU Ketenagakerjaan.

Tak mau mati konyol, Hengky beserta istrinya memutuskan untuk pulang ke Bangka Belitung, tanah kelahiran istrinya. Bermodal pesangon yang diperoleh sang istri yang tak seberapa, Hengky memutar otak agar bisa tetap survive.

Gadis kecil berusia dua tahun yang tengah lucu-lucunya, buah cinta mereka berdua menjadi spirit utama dari Hengky. Hengky tak mau gadis kecilnya tak punya masa depan lantaran orang tuanya menyerah kalah.

Tak mudah memang membangun usaha baru dengan uang tak seberapa plus situasi yang serba tak menentu. Dari sekian alternatif, Hengky memutuskan untuk mendirikan warung kopi kecil-kecilan.

Situasi yang pelan namun pasti mulai kondusif membuat Hengky makin yakin dengan pilihannya. Ia bahkan rela untuk menguras isi tabungan plus menjual sejumlah benda berharga untuk warung kopi yang akan didirikan.

Usai Lebaran, warung kopi Hengky mulai melayani pelanggan. Makin hari warungnya makin ramai sehingga Hengky makin yakin dengan pilihannya. Ya, warung kopi tersebut kini menjadi satu-satunya asa yang dimiliki Hengky untuk menata masa depannya, utamanya untuk gadis kecilnya.

Sayangnya, harapan Hengky kembali terkoyak. Ia meradang begitu tahu ada aturan yang mewajibkan seluruh aktivitas di Kota Pangkalpinang harus tutup pada pukul 22.00. Bagi Hengky, pukul 22.00 adalah prime time di mana pada jam itulah mesin kasirnya membukukan omzet.

Kekhawatirannya makin nyata saat petugas keamanan secara rutin melakukan razia dan memaksa semua tempat untuk tutup, termasuk warung kopi miliknya. Lama hidup di Jakarta membuat Hengky tak sedikitpun keder dengan operasi-operasi yustisi yang dilakukan aparat keamanan.

Namun harus diakui, razia tersebut begitu menakutkan Hengky lantaran merampas masa depannya. Semua harta Hengky bahkan masa depannya sudah diletakkan di warung kopi yang beroperasi sejak sebulan lalu. Jika aparat memaksanya tutup, maka itu tak ubahnya menutup masa depannya.

Itulah alasan kenapa Hengky terkesan melawan saat sejumlah aparat keamanan menyambangi warung kopinya dan memaksanya tutup. Hengky bahkan tampak menunjukkan gestur tak suka saat ada pihak lain di luar aparat keamanan yang mencoba mempertanyakan status dan asal muasalnya saat warung kopinya terkena razia.

Ia prihatin sekaligus marah masih ada sikap yang mengedepankan primordialisme di saat situasi peradaban ini sedang tidak baik-baik saja. Apalagi ia tahu, pertanyaan itu muncul bukan dari aparat keamanan tetapi dari pihak lain yang sama sekali tak punya hak untuk menginterogasinya.

Hengky tahu, sekuat apa pun dia melawan, maka dia akan kalah. Regulasi bertajuk maklumat (:pengumuman) yang di dalamnya mengutip adagium Salus Populi Suprema Lex Esto adalah narasi umum yang tengah 'berkuasa' saat ini.

Hengky tidak sendiri. Banyak pedagang kecil seperti dirinya yang tengah bangkit dari keterpurukan menjadi korban dari kebijakan era pandemi. Hengky bahkan tak diberi ruang untuk berargumen soal substansi.

Hengky berpikir, bukankah yang substansi itu soal menjaga jarak bukan soal warung kopi buka atau tutup. Ia berpikir kenapa kebijakan yang diambil adalah melarang operasional, bukankah menata dan memastikan operasional dengan protokol kesehatan jauh lebih bermartabat.

Ia juga bertanya, apakah kebijakan ini juga berlaku untuk tempat-tempat lain yang segmentasinya lebih elitis? Hengky tahu ada beberapa rumah musik yang tetap beroperasi hingga pagi meski dari luar yang tampak adalah pintu kafe yang tutup.

Dalam situasi ini, Hengky dan ratusan bahkan mungkin ribuan pedagang kecil lainnya hanya bisa menjerit. Mereka tahu tak punya daya tawar sebagaimana kafe-kafe besar yang punya bargaining dan bisa tetap beroperasi meski seolah tutup.

Hengky hanya tahu bahwa membuka warung kopinya adalah ikhtiar besar untuk bertahan hidup sekaligus memastikan masa depannya. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved