Breaking News:

Retas Ponsel Tanpa Terdeteksi, Pegasus Israel Mata-matai Jurnalis, Politikus, dan Oposan

Analisis yang dilakukan pada daftar 50.000 nomor telepon yang bocor menemukan daftar tersebut termasuk orang-orang yang ditargetkan pemerintah

Editor: Iwan Satriawan
Suwat Rujimethakul
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Perusahaan siber Israel NSO Group diklaim menjual malware ponsel guna memata-matai jurnalis, aktivis, dan politisi di puluhan negara.

Klaim ini berdasarkan hasil investigasi mendalam 17 organisasi berita internasional besar yang diterbitkan Minggu (18/7/2021).

Laporan hasil reportase penyelidikan ini dirilis The Washington Post, Le Monde, Die Zeit, Guardian, Haaretz, PBS Frontline dan banyak outlet berita lainnya.

Investigasi ini juga melibatkan Forbidden Stories dan Amnesty International.

Mengutip laman berita Times of Israel, Senin (19/7/2021), investigasi global tersebut diberi judul Proyek Pegasus.

Pelaporan berfokus pada Pegasus, alat spyware yang dijual oleh NSO yang katanya digunakan oleh lusinan klien pemerintah.

Analisis yang dilakukan pada daftar 50.000 nomor telepon yang bocor menemukan daftar tersebut termasuk orang-orang yang ditargetkan pemerintah Azerbaijan, Bahrain, Kazakhstan, Meksiko, Maroko, Rwanda, Arab Saudi, Hongaria, India, dan Uni Emirat Arab.

Menurut Guardian, beberapa penentang Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban yang otoriter menjadi sasaran menggunakan Pegasus.

Perangkat lunak ini bekerja dengan memancing pengguna untuk mengklik tautan, lalu menginstalnya sendiri dan memberi peretas akses lengkap ke seluruh konten telepon, serta kemampuan untuk menggunakan kamera dan mikrofonnya tanpa terdeteksi.

Rwanda, Maroko, India, dan Hongaria membantah telah menggunakan perangkat lunak tersebut untuk meretas individu, sementara negara-negara lain tidak menanggapi permintaan komentar Proyek Pegasus.

Menurut laporan itu, lebih dari 1.000 orang di lebih dari 50 negara ditelusuri ke nomor-nomor dalam daftar, termasuk beberapa kepala negara, dan perdana menteri, anggota keluarga kerajaan Arab, eksekutif bisnis, 85 aktivis hak asasi manusia, 189 jurnalis, dan lebih dari 600 politisi dan pejabat pemerintah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved