Breaking News:

Kasus Meninggal Dunia Akibat Covid-19 di Babel Didominasi Lansia, Mikron: Imun Tubuh Sudah Menurun

Lanjut Usia (Lansia) dari 46-65 tahun mendominasi warga yang meninggal dunia karena terjangkit Covid-19 di Bangka Belitung.

Penulis: Riki Pratama | Editor: M Ismunadi
Satgas Penanganan Covid -19 Bangka Belitung
Grafis sebaran kasus Covid-19 di Bangka Belitung hingga Minggu (18/7/2021) 

BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Lanjut Usia (Lansia) dari 46-65 tahun mendominasi warga yang meninggal dunia karena terjangkit Covid-19 di Bangka Belitung.

Data tersebut dilansir dari Satgas Covid-19 Babel yang mengkategorikan usia yang rentan meninggal dunia karena Covid-19.

Lansia menduduki urutan pertama, jumlah paling banyak meninggal dunia, dengan 78 orang, kemudian manula usia di atas 65 tahun 50 orang, usia dewasa 26-45 sebanyak 20 orang, dan balita 1 orang.

Dengan jumlah laki-laki 58 orang dan perempuan 90 orang.

Sekretaris, Percepatan, Penanganan, Satgas Covid-19, Bangka Belitung, Mikron Antariksa, mengatakan, usia rentan yang meninggal dunia yaitu lansia, karena imun yang lemah dan adanya penyakit bawaan lainya.

"Kita ketahui lansia ini imun tubuhnya sudah menurun, sehingga mudah terjangkit ditambah dengan adanya penyakit komorbit lainya," jelas Mikron kepada Bangkapos.com, Rabu (21/7/2021).

Lansia yang terjangkit Covid-19, biasanya berasal dari klaster keluarga atau mobilitas saat keluar rumah dan bertemu dengan orang banyak.

"Sehingga lansia ini harus disiplin melaksanakan protokol kesehatan dan hidup bersih, sering minum vitamin, cuci tangan dan pakai masker bila ingin berpergian," ujarnya.

Semantara untuk usia dewasa 26 sampai 45 hanya 20 orang, meninggal dunia, karena imun tubuh yang masih kuat sehingga terhindar dari resiko kematian akibat Covid-19.

Sementara, Wakil Gubernur Bangka Belitung, Abdul Fatah, mengatakan saat ini belum dapat digunakan alat terapi plasma konvalesen yang berada di RSUD Soekarno.

Menurutnya alat belum dapat digunakan, karena tidak adanya alat untuk menskrining para pendonor yang berasal dari penyintas Covid-19. Padahal, kata Fatah, apabila alat ini lengkap dapat membantu pasien Covid-19 dan menurunkan angka kematian.

"Belum ada, karena harus dilengkapi alat skrining itu mahal, mengatasi itu PMI bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah Soekarno dengan PMI Kota dan DKI Jakarta untuk pemisahan plasma, karena sesorang harus memenuhi, sebelum didonorkan plasma darahnya," kata Abdul Fatah.

Abdul Fatah mengatakan, kerjasama ini dilakukan nantinya, dalam upaya pengambilan sampel darah yang dikirimkan ke DKI Jakarta dari sekian banyak sampel darah penyintas, mana saja dapat digunakan setelah dilakukan skrining.

"Misalnya dari 100 ternyata 75 memenuhi syarat nanti kita melukan itu disini untuk pengambilan plasmanya, dan saya akan komunikasikan ke para penyintas untuk dapat mendonorkan plasma itu," katanya.
(Bangkapos/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved