Breaking News:

Bukan Pandemi Covid-19, Sri Mulyani Ungkap Ancaman Global Ini Lebih Mengerikan

Ancaman global tersebut adalah perubahan iklim. Sama seperti Covid-19, perubahan iklim bisa diselesaikan dengan kerja sama seluruh negara di dunia.

Editor: Evan Saputra
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Menteri Keuangan Sri Mulyani tiba di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/7/2017). Kedatangan Presiden Joko Widodo dalam rangka kunjungan kerja dan dialog ekonomi dengan para pelaku pasar modal. 

Bukan Pandemi Covid-19, Sri Mulyani Ungkap Ancaman Global Ini Lebih Mengerikan

BANGKAPOS.COM - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, ada ancaman global yang lebih mengerikan dari pandemi Covid-19 yang saat ini menghantui seluruh negara.

Ancaman global tersebut adalah perubahan iklim. Sama seperti Covid-19, perubahan iklim bisa diselesaikan dengan kerja sama seluruh negara di dunia.

"Kenapa saya sedikit elaborasi masalah Covid-19. Karena climate change adalah global disaster yang magnitude-nya akan sama seperti pandemi Covid-19. Bedanya pandemi itu mungkin terjadi. Climate change adalah global trap atau ancaman global yang nyata," kata Sri Mulyani dalam ESG Capital Market Summit di Jakarta, Selasa (27/7/2021).

Bendahara Negara ini mengungkapkan, seluruh ilmuan sudah mempelajari soal perubahan iklim. Semua sepakat, semakin negara membangun, semakin cepat pemanasan global terjadi.

Negara yang membangun akan makin sejahtera, mobilitas makin tinggi, penggunaan energi makin besar, dan tekanan terhadap sumber daya alam akan semakin nyata.

"Seluruh kegiatan manusia juga makin menghasilkan CO2 emission atau emisi karbon yang mengancam dunia dalam bentuk kenaikan suhu," beber Sri Mulyani.

Adapun saat ini, dunia sedang berlomba-lomba menghindarkan kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat celcius sehingga dampak katastropiknya tidak terjadi. Upaya itu bisa disamakan ketika dunia menghadapi pandemi Covid-19.

Untuk memutus rantai virus dan menahan dampak pada sosial ekonomi, dunia mengalokasikan 11 triliun dollar AS selama pandemi. Dana super fantastis itu sudah dibelanjakan dalam bentuk fiskal defisit yang melebar maupun monetary easing.

Negara yang paling tidak siap dari sisi sistem kesehatan, kemampuan fiskal, dan kemampuan mendapat vaksin akan terkena dampak yang paling dahsyat dari pandemi.

"Climate change juga sama, negara yang miskin mungkin akan mendapatkan dampak yang jauh lebih berat. Climate change mempengaruhi makhluk dan manusia di dunia, sama seperti pandemi tidak ada satu negara yang bisa escape atau terbebas dari ancaman," ucap dia.

Oleh karena itu, Indonesia berikhtiar untuk mengindari dampak bahaya dari perubahan iklim tersebut. Indonesia sebagai salah satu negara yang besar dari sisi geografi, jumlah penduduk, dan ukuran ekonomi, menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di dunia dalam partisipasinya menangani perubahan iklim.

Pemerintah kata Sri Mulyani, harus mampu menyiapkan Indonesia dari kesiapan fiskal maupun partisipasi langsungnya menghadapi ancaman perubahan iklim.

"Supaya kita tidak didikte, tapi kita ikut membentuk tatanan global baru. Indonesia tidak seharusnya menunggu dan defensif, dan kemudian negara lain atau otoritas lain baru tergopoh-gopoh menyesuaikan," pungkas Sri Mulyani.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved