Breaking News:

OPINI

Memaknai Musibah dari Wafatnya Ulama: Tuntutlah Ilmu Sebelum Para Ulama Pergi Meninggalkan Kita

Di Kota Beribu Senyuman yang kita cintai ini belum lama ini telah meninggal dua orang ulama kita, KH Usman Fathan dan H Abu Bakar Harun wafat

Editor: khamelia
Ist/Johan
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pangkalpinang, Ustaz Johan SAg 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- MASYARAKAT Indonesia akhir-akhir ini terkejut dengan kabar duka yang terus-menerus karena banyaknya ulama wafat, tak terkecuali masyarakat Kota Palembang yakni Kiai Haji Kiagus A. Nawawi Dencik, Al Hafizh (Imam Besar Masjid Agung Palembang), juga di Kota Beribu Senyuman yang kita cintai ini belum lama ini telah meninggal dua orang ulama kita, KH Usman Fathan dan H Abu Bakar Harun wafat menyusul ulama yang sudah terlebih dahulu wafat.

Kita semua mengakui bahwa wafatnya ulama adalah sebuah musibah bagi umat Islam. Karena ulama adalah pewaris para nabi, maka dengan wafatnya mereka berarti hilangnya pewaris nabi.

Penulis sampaikan satu  makna yang perlu kita renungi bersama tentang renungan kehidupan dan kematian, mengapa manusia mencintai aku dan membencimu? Kematian menjawab: Karena kamu adalah fatamorgana yang indah, sedangkan aku adalah kepastian yang menyakitkan!

Dunia memang indah, penuh gemerlap, bahkan membuat silau kemewahannya, tetapi semua itu tidak lebih dari permainan dan sandiwara saja yang pasti berakhir dengan kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, akan tetapi kematian adalah awal kehidupan yang sebenarnya, tanpa ada permainan dan sandiwara lagi. Kematian tidak lain hanyalah perpindahan dari negeri sandiwara menuju negeri nyata untuk mendapatkan hisab (perhitungan) atas semua amal perbuatan kita dan jaza' (pembalasan) yang setimpal atas semuanya.

Hakikat kehidupan dunia menurut firman Allah dalam Kitab Suci Al-Qur'an, Surat 57 Al-Hadid 20-21:

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar".

Wafatnya ulama adalah musibah bahkan ditegaskan oleh Rasulullah SAW, dalam sabdanya yang bermakna "Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama." (HR At-Thabrani)

Pemaknaan wafatnya ulama sebagai musibah dalam agama adalah diumpamakan seperti bintang yang padam, maka wajar apabila kita mendengar ulama wafat, lantas kita berduka dan bersedih. Sebaliknya, apabila mendengar ada ulama wafat, kemudian tidak berdukacita dan tidak merasa kehilangan, bisa-biasa saja, maka itu pertanda kemunafikan telah bersemayam dalam jiwanya.

Musibah meninggalnya ulama akan dirasakan terutama oleh para pencinta ilmu, orang-orang yang peduli dengan warisan kenabian. Kesedihan karena ditinggal wafatnya seorang ulama bukanlah kesedihan berdasarkan nafsu karena kehilangan jasad dan fisiknya, akan tetapi hakikatnya bersedih karena kehilangan transfer ilmu sebagai bentuk warisan para nabi kepada umatnya. Kehilangan orang yang membimbing pada jalan kebenaran. Kehilangan orang yang dalam jiwanya terdapat ilmu yang sangat diperlukan bagi umat dalam menapaki kehidupan.

Saya melihat dalam masa dan usia yang singkat ini dan juga telah diceritakan kepada kita pada masa lalu sebuah masa dalam sejarah, di mana tiba sebuah masa banyak orang yang bertakwa, para wali, orang-orang saleh dan ulama meninggal dunia dalam waktu yang sangat berdekatan. Keadaan yang semacam itu menjadi sebuah pelajaran bagi kita untuk terus beribadah dan bersedih atas kepergian orang-orang seperti mereka. Karena hati adalah sebuah tempat, di mana seorang hamba dipandang Allah dan dengan pandangan tersebut seorang hamba memperoleh nilai dari Allah.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved